Korban Banjir Cirebon Mulai Bersih-bersih Rumah

Warga dibantu TNI dan Polri tengah membersihkan sampah sisa-sisa banjir.

Warga dibantu TNI dan Polri tengah membersihkan sampah sisa-sisa banjir.

(Suara Gratia)Cirebon – Setelah banjir mulai surut, warga bersama TNI dan Polri, di Kabupaten Cirebon yang rumahnya terendam banjir, mulai membersihkan rumah dari lumpur dan sampah.
Berdasarkan informasi, banjir di Kecamatan Gebang maupun Waled mulai surut sejak Senin (2/01/2017) malam. Sebagian warga yang mengungsi di Balai Desa mulai kembali ke rumahnya masing-masing. Banjir sendiri, diketahui akibat jebolnya tanggul Sungai Ciberes. Selain itu, Sungai Ciberes juga mengalami pendangkalan akibat lumpur dan sampah.
Menurut, salah seorang warga Desa Gebang Udik, Kasdin, tanggul jebol sejak 2015 lalu dan belum juga diperbaiki. Akibatnya, setiap musim penghujan banjir pun menerjang rumah warga.
“Kami harap tanggul yang rusak segera diperbaiki dan sungainya dikeruk,” katanya, Selasa 3/01/2017.
Warga Desa Ambit, Juhariah mengungkapkan, setiap hujan deras turun banjir pasti datang, oleh karenanya ia dan warga lainnya sudah pasrah ketika langit mendung tebal.
“Kalau sudah mendung tebal, pasti akan ada banjir bandang. Kalau sudah begitu kita tidak bisa berbuat apa-apa,” katanya.
Sementara, Kepala Bidang Program dan Perencanaan Umum Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Cimanuk-Cisanggarung Dwi Agus Kuncoro mengungkapkan, pihaknya membutuhkan dana sekotar Rp 1,5 triliun untuk merehabilitasi ratusan titik tanggul sungai yang kritis.
“Terdapat sekitar 100 tanggul yang rusak berat. Sedangkan perbaikan tanggul sangat kritis hanya tersedia Rp 100 miliar,” katanya.
Sejauh ini, sebelum ada tindakan dari pihak BBWS Cimanuk Cisanggarung, Pemerintah Kabupaten Cirebon sudah menyediakan posko tim penanggulangan bencana di tiap titik rawan banjir.
Belakangan diketahui, sedikitnya 599 titik tanggul sungai di wilayah Sungai Cimanuk-Cisanggarung yang memiliki 25 daerah aliran sungai (DAS), dalam keadaan kritis.
Lebih dari 100 titik bahkan tergolong sangat kritis yang sewaktu-waktu bisa jebol. Namun, dengan alasan keterbatasan anggaran, BBWS Cimanuk-Cisanggarung hanya mampu melakukan penanganan darurat melalui penanaman bronjong yang ditahan pagar bambu.
“Jangankan memperbaiki semua tanggul rusak, DIPA pada BBWS Cimanuk Cisanggarung setahun hanya Rp1 triliun,” pungkasnya.(Frans C Mokalu)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s