Pemprov Jabar akan Jadikan Seluruh Sekolah Rumah Kedua Bagi Anak Didik

Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan.

(Suara Gratia)Cirebon – Pemerintah Provinsi Jawa Barat, akan merubah seluruh sekolah dari semua tingkatan menjadi Sekolah Ramah Anak. Hal ini dipicu oleh tingginya angka kekerasan terhadap anak, baik di lingkungan sekolah maupun dalam keluarga. Sebelumnya program ini hanya dilakukan oleh beberapa sekolah yang ditunjuk saja, kini seluruh sekolah di Jawa Barat akan dijadikan “Rumah Kedua” bagi anak didik.
Gubernur Jabar Ahmad Heryawan mengatakan, awalnya program sekolah ramah anak hanya dijalankan di beberapa sekolah saja.
“Sekarang seluruh sekolah di Jawa Barat baik SD, SMP, dan SMA akan menjadi rumah kedua bagi siswa/siswi. Tidak perlu pakai sekolah percontohan-percontohan lagi,” katanya, Kamis 6/04/2017.
Ia melanjutkan, pihaknya akan berkordinasi dengan guru dan orang tua sehingga bisa bersinergi mewujudkan sekolah ramah anak di Jawa Barat.
“Kami melakukan berbagai upaya diantaranya adalah melakukan sosialisasi. Untuk membangun keramahan dan keakraban antara guru dengan anak-anak serta orang tua dengan anak-anak,” imbuhnya.
Ia menjelaskan, sekolah ramah anak adalah lingkungan pendidikan yang nyaman bagi anak didik untuk menempuh ilmu, bersosialisasi, dan pembentukan karakter.
Hal ini akan terwujud jika sekolah memiliki sarana dan prasarana yang nyaman bagi anak seperti ruang kelas bersih, lingkungan sekolah yang representatif dan menyenangkan. Termasuk tenaga pengajar yang dapat menjadi sahabat bagi anak didik.
“Kita akan menciptakan sekolah dimana anak-anak tidak canggung menceritakan masalahnya kepada guru-guru di sekolah. Rumah kedua ya mereka betah di sekolah seperti di rumah,” terangnya
Menurutnya, anak-anak muda khususnya pelajar mengenal perbuatan buruk seperti penyalahgunaan narkoba, pornografi, dan radikalisme, dari luar lingkungan sekolah. Jika, sudah terlibat masalah, anak-anak tidak berani menjalin komunikasi dengan orang tua di rumah, karena mereka tidak pernah didengarkan.
“Ketika anak-anak ini terkena masalah, mereka kurang berani cerita sama Bapak atau Ibunya. Karena ceritanya tidak pernah didengarkan. Daripada nanti bercerita dengan temannya atau bercerita di media sosial. Oleha karena itu kita ingin menjadikan sekolah rumah kedua bagi anak-anak,” ujarnya.(Frans C Mokalu)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s