Tiga Keajaiban Di Jumat Agung

good-friday-3JUMAT Agung adalah hari yang istimewa. Tidak biasanya orang Kristen bersekutu pada hari Jumat. Hari persekutuan dan ibadah Kristen sepanjang segala masa adalah hari pertama dalam seminggu. Bukan hari keenam, atau Jumat. Dan kalau anak-anak kita bertanya: “Mengapa Jumat Agung lain dari Jumat-Jumat yang biasa? Jawaban yang pasti dari para orangtua: “Karena pada hari Jumat Agung Yesus Kristus mati. Ia disalibkan dan menyerahkan nyawanya sebagai tebusan bagi banyak orang”. Tentu saja jawaban ini benar. Tuhan Yesus mati pada hari Juma

Jumat Agung adalah hari yang unik. Kalau Matius hanya mencatat dua hal luar biasa. Lukas mencatat bagi kita tiga kejadian ajaib yang membuat Jumat yang satu itu lain dari kebanyakan hari Jumat. Pertama, kegelapan meliputi seluruh daerah itu selama tiga jam. Kedua, tabir Bait Suci terbelah dua. Ketiga, kepala pasukan penyaliban memuliakan Allah di depan umum. Tulisan ini akan terfokus pada ketiga keajaiban di Jumat yang Agung. Pertama: ada kegelaan meliputi seluruh daerah itu dari jam dua belas sampai jam tiga.

Matahari tidak mau bersinar. Bumi menjadi gelap. Mengapa begitu? Para ilmuwan bisa saja menjawab: ya itu terjadi karena gerhana matahari total yang terjadi pada waktu itu. Jawaban ini tidak mungkin. Karena gerhana matahari hanya bisa terjadi jika bulan gelap. Tetapi pada saat itu orang Yahudi merayakan paskah. Perayaan paskah selalu terjadi pada saat bulan purnama. Menurut perhitungan kalender Israel bulan baru selalu mulai dengan awal munculnya bulan. Hari keempat belas dari bulan baru, yaitu saat dimana domba paskah harus disembelih, jatuh sama dengan bulan purnama. Pada waktu itu posisi bulan berseberangan dengan matahari. Bumi berada di antara bulan dan matahari. Gerhana matahari hanya mungkin terjadi kalau bulan berada di antara matahari dan bumi.

Jadi gelap gulita yang terjadi pada hari Jumat Agung tidak ada sangkut paut dengan gerhana matahari. Kegelapan saat itu adalah sebuah kejadian yang janggal. Ia bukan gejala alam biasa, yakni gerhana matahari. Lalu apa sebenarnya penyebab kegelapan itu?

Saya ajak kita melakukan anjangsana ke perjanjian lama. Baiklah kita ingat kembali kisah penciptaan. Kalimat pertama dari Alkitab berbunyi: “Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi. Bumi belum terbentuk dan kosong. Gelap gulita menutupi samudera raya”.

Bumi berada dalam gelap. Bumi baru mengenal terang waktu Allah mulai bertindak. Itu sebabnya Kitab Kejadian melaporkan bahwa pekerjaan yang dilakukan Allah pada hari pertama adalah “menjadikan terang”. Terang datang dari Allah. Karya Allah identik dengan terang. Dan karya Allah berlangsung dalam terang.

Allah menciptakan terang pada hari pertama. Tapi itu saja belum cukup. Pada hari keempat, terang itu dilipatgandakan lagi oleh Allah dengan menciptakan benda-benda penerang. Apakah dengan itu gelap sudah terusir dari dunia? Ternyata tidak. Kegelapan masih saja ada. Yesaya 9:1 masih bicara tentang bangsa yang berjalan dalam kegelapan. Bagaimana itu mungkin, padahal Allah sudah menjadikan terang dan membuat benda-benda penerang?

Rupanya betapa pun baik dan berguna terang itu, ia tidak mampu menghalau semua kejahatan dari muka bumi. Karena terang itu hanyalah ciptaan. Untuk benar-benar menghalau kegelapan dari muka bumi, terang yang sejati harus datang ke dalam dunia. Yesuslah terang yang sejati. Terang yang sesungguhnya. Terang yang diciptakan Allah pada hari pertama dan yang dipancarkan dari benda-benda penerang hanyalah pantulan atau refleksi dari terang yang sejati itu. Terang dalam Kejadian 1:3 dan terang yang dipancarkan benda-benda penerang, yaitu matahari, bulan dan bintang, tidak memiliki terang sendiri. Mereka menjadi terang karena ada terang yang sejati, yaitu Allah. Manusia harus dapat mengerti terang dan fungsinya jika mereka ada dalam terang. Itu sebabnya pemazmur 36:10 berkata: in lumine tou videmus lumen yang artinya: “dalam terangmu kami melihat terang”.

Lalu apa hubungan gelap gulita di Jumat yang Agung dengan data yang saya kemukakan ini? Yang pertama, dengan cerita ini Lukas hendak menegaskan bahwa dunia kembali kepada keadaannya semula. Dunia benar-benar hidup tanpa Allah pada saat Yesus menghembuskan nafasnya yang terakhir. Itu sebabnya dunia diliputi kegelapan. Bukan kegelapan biasa karena gerhana matahari. Tetapi kegelapan luar biasa. Kegelapan yang dahsyat, kegelapan karena hidup tanpa Allah. Dan memang demikian adanya. Dua belas jam terakhir dari kisah hidup Yesus memperlihatkan betapa kejamnya manusia. Manusia telah benar-benar hidup tanpa Allah. Hati mereka menjadi gelap. Mereka bukan hanya memutarbalikkan kebenaran. Tetapi berusaha membunuh kebenaran. Manusia bukan hanya menangkap dan mengadili Yesus dalam kegelapan. Mereka juga ingin memusnahkan terang yang sejati itu dari muka bumi.

Gelap gulita di Golgota pada Jumat yang Agung ini menunjukkan bahwa dunia dan manusia belum melangkah jauh dalam hal kebenaran dan kasih. Umur dunia sudah tua, tapi manusia yang menduduki dunia masih ada pada titik start, nol kilometer.

Kedua, matahari menjadi gelap, karena Tuhan yang adalah sumber dari mana matahari memperoleh terang telah tiada. Seumpama lampu, nyala api matahari padam karena minyak yang menyalakannya sudah habis. Kristus sudah mati. Terang yang sesungguhnya sudah tiada. Matahari menjadi malu dan tidak tahan melihat bagaimana kejamnya perlakuan manusia terhadap sang terang. Itu sebabnya matahari menutup matanya. Ia tidak mau bersinar. Dalam Kitab Matius dan Lukas dikisahkan bahwa bukan hanya matahari yang menjadi gelap. Tetapi ada juga gempa bumi yang dahsyat. Bumi gemetar ketakutan waktu menyaksikan sumber hidup dan sang penciptanya dilumatkan oleh kuatnya dosa dan pemberontakan manusia.

Inilah arti dari kejadian ajaib pertama di Jumat Agung. Tapi, kuatnya dosa itu tidak berlangsung lama. Kejahatan yang bersimaharajalela, bahkan sampai menyerang Allah tidak bertahan. Ia hanya berlangsung sekejap. Hanya tiga jam. Memang cukup lama, tetapi tidak selamanya. Kegelapan pasti akan berlalu. Kejahatan tidak punya masa depan. Pada hari paskah nanti, hari kebangkitan Yesus, ia akan benar-benar pergi dan takluk pada sang terang dunia. Ini juga pelajaran penting bagi kita. Kejahatan memang ganas tetapi seganas apa pun kejahatan itu, ia tidak punya masa depan. Akan tiba waktunya dimana kejahatan dilucuti dan para pelaku kejahatan akan dihadapkan ke pengadilan. Sekarang mungkin tidak, karena pengadilan dan para hakim kita masih hidup tanpa Allah waktu hendak mengambil keputusan. Tapi nanti, waktu sang hakim yang agung itu datang semua kejahatan akan tersingkap.

Tanda ajaib yang kedua: tirai Bait Allah terbelah dua. Di Bait Allah tergantung dua tirai/layar. Yang pertama di pelataran depan yang memisahkan ruang untuk umum dan ruang yang kudus. Layar kedua tergantung di antara ruang kudus dan ruang maha kudus. Mana dari kedua layat ini yang terbelah tidak disebut dalam Alkitab. Kita hanya bisa menduga. Terbelahnya tirai ini tentu punya maksud atau pesan. Kalau maksudnya untuk mengumumkan bahwa jalan kepada Allah sekarang terbuka kepada semua manusia, maka yang tercabuk itu haruslah tirai yang memisahkan ruang kudus dan ruang maha kudus. Tetapi ini berarti hanya imam besar saja yang melihat dan mengetahui hal itu.

Sudah pasti bukan ini yang dimaksudkan Lukas. Tirai yang tercabik yang dimaksud Lukas haruslah tirai yang ada di antara ruang untuk umum dan ruang kudus. Dan kalau itu yang terjadi, maka tercabiknya tirai tadi hendak menegaskan bahwa dengan kematian Yesus Allah mengumumkan bahwa Ia tidak mau lagi terkurung hanya dalam Bait Allah dan hanya bisa ditemui di gedung kebaktian. Sejak saat itu Allah tidak hanya bisa ditemui di Bait Allah. Ia ada dalam perjalanan kepada bangsa-bangsa. Dia mau juga disembah dan dihormati di tempat-tempat yang bukan gedung kebaktian atau Bait Allah. Bukan hanya para imam saja yang dapat berbicara dan melayani Dia. Orang kebanyakan juga dapat bertemu Tuhan Allah secara langsung.

Pesan ini sesuai dengan dengan teologi kitab Injil Lukas. Karena keyakinan ini, Lukas tidak segan-segan bercerita tentang pekabaran Injil yang mulai dari Yerusalem sampai ke ujung bumi. Lukas juga memperoleh keberanian untuk menulis kepada seorang bukan Yahudi (Teofilus) dengan maksud meyakinkan dia bahwa cerita tentang Yesus adalah benar. Bahkan hanya Lukas sajalah yang memuat cerita tentang orang Samaria yang murah hati (Luk. 10:25-37). Cerita yang memberikan kepada kita kesan sangat mendalam bahwa pelayanan dan penyembahan kepada Allah tidak melulu terjadi di Bait Allah atau tempat doa. Menolong sesama yang sedang dalam kesulitan, mengasihi dan memberi perlindungan kepada seorang asing atau dia yang memusuhi kita adalah perbuatan beribadah kepada Tuhan.

Kita yang merayakan Jumat Agung perlu tahu keajaiban ini, sehingga mulai belajar untuk menyembah Allah bukan hanya di gedung ibadah dan rumah doa, tetapi juga di setiap tempat dimana saja kita berada.

Keajaiban ketiga, seorang non Yahudi, bangsa tidak bersunat, kepala pasukan penyaliban berkata di hadapan umum: “Sungguh, orang ini adalah orang benar374Kita lihat di sini bahwa Allah tidak menyembunyikan kebenaran kepada orang non Yahudi. Allah adalah Tuhan yang tidak diskriminatif. Kasih juga tidak pilih muka. Allah memberikan kepada orang yang percaya maupun orang kafir kemampuan untuk mengenal kasih dan menghormatinya.

Tidak ada dosa yang begitu berat sehingga menghalang-halangi kuasa Allah. Tidak. Kepala pasukan penyaliban digerakkan hatinya oleh Allah untuk mengenal kasih dan kebenaran. Dengan mengakui bahwa Yesus adalah orang benar di depan umum, ia mengaku diri sebagai yang melakukan satu tindakan yang salah dan keliru. Si kepala pasukan penyaliban tidak berusaha membela diri, ia mengakui kekeliruannya dengan terbuka dan jujur.

Seorang kepala pasukan mengaku diri berbuat kesalahan dan kekeliruan. Itu diucapkan di depan umum. Lukas melihat ini sebagai sebuah keajaiban. Ia mencatat ini dalam kitab yang dia peruntukan kepada Teofilus, seorang pejabat tinggi dalam pemerintahan Roma waktu itu. Ia tentu mencatat keajaiban ini dengan maksud agar mendorong Teofilus waktu itu, dan Teofilus-Teofilus masa kini untuk meniru contoh kepala pasukan penyaliban.

Akhirnya, Lukas memberi kesaksian bahwa pada Jumat Agung yang pertama ada tiga peristiwa ajaib. Kita sudah lihat keajaiban itu satu persatu. Tentu saja tidak dengan maksud mengatakan bahwa keajaiban-keajaiban itu hanya terjadi pada Jumat Agung yang pertama saja. Lukas catat hal itu untuk mendorong kita agar menjadikan Jumat Agung yang kita peringati kini dan di sini juga menjadi Agung yang di dalamnya ada keajaiban-keajaiban yang bisa disaksikan orang lain.  Dr. Eben Nuban Timo / sabda.org

ARUS YANG MENGHANYUTKAN

Sebagai umat Tuhan , setiap waktu kita terhubung dengan hal-hal duniawi yang tidak bisa kita hindarkan. Dalam pekerjaan, sekolah, komunitas, masyarakat, semua hal kita terhubung dengan dunia ini. Dan tahukah anda, ada sebuah sifat dari dunia ini, yaitu menghanyutkan, dan ini adalah hal yang sangat serius buat setiap kita. Seperti sebuah sungai yang mengalir terus, begitu ada sebuah benda yang terjatuh pada sungai tersebut, maka benda itu akan terhanyut menuju arus kemana air itu mengalir. Baca lebih lanjut

“……?” terserah deh.

Menjatuhkan sebuah pilihan adalah hal yang sulit dalam hidup kita, apalagi keputusan itu di desak dengan waktu yang sangat singkat. Sebuah kata andalan dari sebuah jawaban yang kita lontarkan adalah “terserah’. Sebagai contohnya, ketika anda sebagai teman komunitas ingin makan bersama dengan sahabat-sahabat anda, entah karena malas berpikir tetapi banyak orang yang pada akhirnya mengatakan terserah. Fakta yang sebenarnya adalah mereka semua lapar dan tanpa disadari waktu itu terus berjalan ketika tidak juga adanya keputusan yang dihasilkan.Dalam hal seperti ini, kita sudah membuang-buang waktu dan biasanya keputusan akhir adalah keputusan bukan yang terbaik. Baca lebih lanjut

KARAKTER DAN PROSES

Keluarga Gratia…

Waktu usia kita masih tergolong anak-anak, kita sering mengidolakan tokoh-tokoh bahkan  mungkin sampai kita beranjak usia dewasa pun ini masih terjadi dalam kehidupan kita.

Sebenarnya hal apa yang menjadikan seseorang menjadi  idola untuk orang lain? Tentu jawaban kita pun akan beranekaragam, dari fashion, gaya rambut, gaya bicara atau mungkin sampai karakter yang dimiliki seseorang yang menjadikan mereka seorang idola untuk orang lain. Dan menurut survei mengenai alasan mengapa seseorang dikagumi banyak orang menyebutkan sifat-sifat seperti sabar, lemah lembut, jujur dan sifat-sifat baik lainnya, tidak ada dari semua jawaban yang diberikan bahwa mereka yang mengagumi orang karena orang tersebut bisa menyembuhkan, bernubuat, melakukan mujizat atau bahkan karunia-karunia lain yang diberikan Tuhan.

Maka dapat disimpulkan bahwa kita semua bisa lebih menjadi saksi dan dikagumi dengan menunjukkan sifat-sifat yang lebih “MANUSIAWI” daripada sifat “SUPRANATURAL”.

Karunia memang penting tetapi karakter jauh lebih penting. Memang Tuhan memberikan beberapa karunia terhadap beberapa orang untuk menyembuhkan, bernubuat atau yang lain-lain, dan hal tersebut sangatlah mengagumkan, tetapi yang utama adalah karakter. Karunia apapun tidak akan berarti tanpa karakter yang baik.

Karunia sifatnya diberikan. Tuhan memberikan karunia kepada seseorang secara cuma-cuma tetapi karakter yang baik terbentuk melalui proses belajar dan hubungan kita dengan-NYA. Tuhan membentuk karakter kita lewat orang-orang di sekitar kita ( orangtua, suami/istri, sahabat, teman, rekan kerja,dll  ), melalui hubungan kita dengan sesama mereka dipakai  untuk membentuk karakter kita.

AMSAL 27 : 17 “Sebagaimana baja mengasah baja, begitu pula manusia belajar dari sesamanya”

Sampai kapan proses tersebut kita jalankan? Pembentukan karakter seseorang tidak akan pernah instan, semua kita jalani dengan proses waktu yang cukup panjang, bahkan seumur hidup kita.

So, nikmati prosesnya dan harapkan hasilnya. God Bless, Keep On Fire! ( LDS )

INSPIRASI

 

MEMBELI RUMAH DENGAN MODAL 10.000, MUNGKINKAH ???modal recehan

Anda punya uang 10.000, bisakah dengan uang sepuluh ribu anda membeli sepeda motor, mobil dan rumah ? pasti jawaban anda…mustahil !!! atau mimpii kaleee…atau seribu jawaban lain yang intinya menjawab tidak bisa. Kenyataannya apakah memang benar benar tidak bisa ? Nanti dulu….ternyata ada yang bisa tuh, asal mengetahui caranya. Ada kisah yang kiranya bisa memberi inspirasi untuk anda

KOMPAS.com – Hanya bermodal minyak sayur, tepung beras, ikan teri, dan bahan baku lain untuk membuat rempeyek yang total seharga Rp 10 ribu, Zaitun, pemilik rempeyek Ilham mulai membuka usahanya pada 2004.

Modal Rp 10 ribu itu menghasilkan 20 bungkus rempeyek. Sebungkus rempeyek saat itu dibanderol Rp 2.000, sehingga ia meraup omset Rp 40 ribu.

Kala itu, ia hanya memasok satu toko kolontong. Dari Rp 40 ribu yang diterima, Zaitun menambah produksinya. Pemasaran pun bertambah satu toko lagi. Hasil penjualan itu ia kembangkan, sehingga modal bertambah besar.

Pada 2005, ia mulai memasok prosuk hasil tangannya itu di swalayan. Tak butuh waktu lama rempeyek Ilham habis. Pada hari kedua, Zaitun menambah barangnya di swalayan. Tak ayal, 40 bungkus rempeyek habis dalam sehari.

Seiring waktu, satu demi satu swalayan di Jambi dijajaki Zaitun untuk memasok barangnya. Kini, nyaris semua swalayan di Jambi sudah dipasok rempeyek Ilham.

“Untuk luar kota yang dekat seperti Sengeti dan Tembesi, kami langsung mengantarnya, sementara ke Sarolangun hingga ke Palembang, ada sales yang mengantarnya,” ungkap ibu empat anak kepada Tribun di rumahnya di Jalan Teladan, RT 31, Kelurahan Payo Lebar, Jelutung, Minggu (4/3/2012).

Zaitun adalah istri seorang PNS. Uang gaji suami yang ia teruima, kala itu tidak tahan sampai lima hari. Ketika ada acara PKK, ia melihat istri PNS lain, yang uangnya sangat tebal sekali.

“Saya berpikir, kenapa uang ibu PKK itu lebih banyak, padahal sama-sama istri PNS? Setelah ia selidiki, ternyata ibu-ibu itu memiliki usaha lain. Dari situ lah, saya mulai berpikir membuka usaha agar bisa membantu perekonomian keluarga,” tuturnya.

REMPEYEKEntah kenapa, Zaitun terpikir untuk membuka usaha rempeyek. Sebenarnya, ia mengaku tak tahu cara membuat rempeyek. “Ada ilham datang kepada saya, sejak itulah saya bikin rempeyek. Anak pertama saya namanya juga Ilham,” timpalnya.

Dari rempeyek, Zaitun mulai mengembangkan sayap industri rumahan lainnya, seperti kerupuk pangsit dan tempe. Serupa dengan rempeyek, kerupuk pangsit dan tempe ini pun laku keras. Dari hasil usaha yang dirintisnya, Zaitun kini memiliki dua unit mobil, tiga sepeda motor, dan satu rumah.

Ternyata memang dengan uang 10.000 bisa membeli motor, mobil bahkan rumah, asal anda tahu caranya. Memang hal itu tidak terjadi secara instan, namun melewati proses usaha yang dibumbui dengan ketekunan dan doa tentunya. Hal yang kelihatan mustahil seringkali hanya karena keterbatasan pengetahuan kita, bila pengetahuan bertambah, apa yang tadinya mustahil menjadi tidak. Sekali lagi karena “mengetahui caranya”. Jadi janganlah berhenti untuk terus belajar.

Ingatlah setiap hal kecil yang kita kelola dengan ketekunan akan menghasilkan sesuatu yang besar, jadi jangan pernah remehkan hal kecil dalam hidup kita. Tuhan telah memberikan kemampuan kepada kita untuk menjadi maksimal. Tetap semangat bila anda sedang memulai satu usaha, tetaplah tekun melakukannya sambil terus belajar untuk menambahkan hal-hal baru. Teruslah berkreasi dan jadilah orang-orang sukses. (MoG)

BUAH YANG BAIK

Shalom Keluarga Gratia…

Tanpa terasa kita sudah ada di akhir pekan, dan tentunya bersiap-siap mengakhiri pekan ini dengan kegiatan-kegiatan yang dapat kita nikmati di luar semua rutinitas yang ada.

Jika diibaratkan, kita ( manusia ) bagaikan sebuah pohon. Dan Tuhan di dalam Alkitab mengatakan tentang pohon yang tidak baik akan menghasilkan buah yang tidak baik, demikian sebaliknya jika pohon itu baik maka akan menghasilkan buah yang baik, tetapi tidak sampai hanya disitu saja, jika pohon yang tidak menghasilkan buah yang tidak baik maka pohon itu ditebang dan dibuang ke dalam api.

MATIUS 7 : 19 : “Dan setiap pohon yang tidak menghasilkan buah yang baik, pasti ditebang dan dibuang ke dalam api”

Lalu kenapa sebenarnya kita diibaratkan seperti pohon? Karena manusia  akan terlihat buahnya melalui tindakan, perbuatan, perkataan, pikiran yang seseorang keluarkan.

Sama seperti pohon sebenarnya yang membutuhkan sebuah perawatan yang intensif, membutuhkan air yang cukup untuk memberikan pohon tersebut kehidupan, tentu saja kehidupan yang kekal sebagai pohon itu dapat hidup dan menghasilkan buah yang baik.

Lalu, perawatan yang seperti apa? Tuhan mengatakan di YOHANES 4 : 14 : “ tetapi barangsiapa minum air yang akan Kuberikan kepadanya, ia tidak akan haus untuk selama-lamanya. Sebaliknya air yang akan Kuberikan kepadanya, akan menjadi mata air dalam dirinya, yang terus menerus memancar sampai kepada hidup yang kekal”

Jadi yang harus kita lakukan yang sama seperti pohon lakukan adalah :

1.MENCARI AIR.

Mencari air kepada yang punya sumber air, kita tidak mungkin mencari air kepada yang tidak memiliki sumber air tersebut.

 

2.MENAJAGA AKAR.

karena akar kehidupan kita harus tertanam sampai dalam sampai sumber air itu agar kita dapat terus bertumbuh, akar berfungsi untuk menyalurkan air ke seluruh bagian pohon yang memerlukannya dan buah yang dihasilkan pun ditentukan dari seberapa cukup sumbangan yang diberikan akar untuk pohon menghasilkan buah

 

3.DIAM SAJA

Diam saja jika ada ranting-ranting yang dipotong oleh pemilik kita. Dahan yang dipotong adalah dahan yang tidak berkembang, yang tidak mendapatkan perawatan yang layak atau bahkan dahan yang terlalu berkembang sehingga memegahkan dirinya ke segala arah

 

Keluarga Gratia, memang seluruh kejadian di luar kita akan memberikan pengaruh yang cukup banyak apakah kita menjadi pohon yang baik atau tidak. Namun, semuanya itu kita yang menentukan.

 

Pohon yang baik akan memancangkan akar ke tanah, mencari sumber air dan mendistribusikan dengan baik sehingga menghasilkan buah yang baik

 

GOD BLESS AND KEEP ON FIRE! – ( LDS )

No Complain

Keluarga Gratia yang dikasihi Tuhan…

Tuhan menciptakan setiap kita dengan sebuah visi yang besar dan rencana yang indah tetntunya untuk setiap kita. Namun, tidak bisa dipungkiri kehidupan yang mungkin menurut kita terasa sangat berat dan terkadang masalah yang datang tak terduga membuat kita mengisi waktu ini dengan sebuah keluhan yang kita keluarkan dari mulut kita.

Yesaya 59 : 19 dalam terjemahan New King James “…When the enemy comes in like a flood, The Spirit of The Lord will lift up a standard against him.”

Di dalam ayat tersebut ada sebuah kata “ FLOOD” yang di artikan sebagai “banjir”. Kata banjir  disini menggambarkan kehidupan yang di banjiri permasalahan, atau mungkin keadaan dan perubahan kondisi yang membuat kita melemah dan pada akhirnya kita mengeluh karena kita merasa tidak kuat menghadapi kondisi tersebut dan disebutkan : “When the enemy…” permasalahan itu sebagai MUSUH yang harus dikalahkan karena kita diberikan KUASA oleh Tuhan!

Tetapi Keluarga Gratia, jangan anda terburu-buru dahulu untuk mengeluarkan dari mulut kata-kata keluhan…Ada kabar baik untuk anda semuanya dari seorang Pemazmur yaitu Raja Daud

Dalam Mazmur 6 : 7, Daud menegaskan : “Lesu aku karena mengeluh…”, jika kita mengeluh, keadaan kita bukan semakin membaik, dan itu adalah perbuatan atau suatu aktivitas yang sia-sia bahkan hidup kita semakin lesu.

So? Buat apa kita melakukan sesuatu yang sia-sia?

Kabar baiknya untuk kita semua…Mazmur 6:10-11, Tuhan telah mendengarkan permohonan kita dan Tuhan menerima doa setiap kita bahkan lebih lanjut dikatakan, semua musuh kita mendapat malu dan terkejut dan musuh kita akan mundur dalam sekejap mata.

Keluarga Gratia, kehidupan tidak lepas dari permasalahan,dan kita punya masalah berbeda-beda..Apa yang kita lakukan waktu masalah atau musuh itu datang? Daud memberikan kita suatu MASTER KEY : Keep Praying And No Complain!

GOD BLESS, Keep On Fire!

(LDS)