Tubuh Sebagai Doa

Ilustrasi. Berlutut. (Foto: Istimewa)

“Demikianlah aku mau memuji Engkau seumur hidupku dan menaikkan tanganku demi namaMu.” Mazmur 63:5

Alkitab penuh dengan apa yang bisa disebut doa tubuh: Musa berdoa dengan kedua tangannya diangkat tinggi ketika orang-orang Israel bertempur melawan orang-orang Amalek; Elisa berdoa mengembalikan kehidupan anak laki-laki Shunammi dengan berbaring di atas tubuhnya; Daud menari di hadapan Tuhan di saat Tabut Perjanjian dibawa masuk ke Kota Kudus; Yesus menumpangkan tanganNya pada banyak orang; Yohanes berbaring menelungkup di hadapan Kristus yang dimuliakan ketika berada di Patmos.

Gaya tubuh dalam berdoa yang paling umum di Alkitab adalah menelungkupkan tubuh seluruhnya atau bersujud dengan tangan terjulur ke depan. Gaya tubuh yang kedua paling umum adalah dengan kedua tangan dan telapak tangan terangkat ke atas. Gaya tubuh yang menjadi kebiasaan kita – kedua telapak tangan bertemu dan mata tertutup – tidak ditemukan dalam Alkitab. Hal ini tidak berarti bahwa gaya tubuh yang pertama, kedua dan ketiga tadi tidak tepat. Tetapi hal inni seharusnya membebaskan kita untuk menggunakan bahasa tubuh apa pun yang tepat untuk masuk ke dalam suatu pengalaman doa. (Richard Foster)

Renungan

Bayangkanlah tubuh Anda sebagai suatu alat untuk memuji. Hendaknya Anda tidak merasa canggung untuk mengangkat kedua tangan Anda guna memuji Tuhan. Meskipun doa bisa dilakukan kapan saja, dalam posisi apa saja, cobalah untuk berlutut pada suatu saat. Salah satu gaya tubuh dalam berdoa yang disukai di dalam Perjanjian Lama, yang masih dilakukan oleh banyak orang Kristen adalah berlutut dengan muka menghadap ke bawah dalam kerendahan hati yang menyeluruh. Menyungkurkan tubuh sepenuhnya, tertelungkup, juga merupakan posisi berdoa yang sering digunakan. Jangan canggung-canggung dalam mencoba praktik-praktik doa ini yang mungkin baru bagi Anda. Kerendahan tubuh adalah suatu ungkapan jasmani dari kerendahan hati.

(Sumber: Buku What Would Jesus Do)

Mayoritas

(perfectingofthesaints.com)

“Siapa tidak bersama Aku, ia melawan Aku dan siapa tidak mengumpulkan bersama Aku, ia menceraiberaikan.” Matius 12:30

Satu orang bersama Tuhan selalu berada dalam mayoritas. (John Knox)

Renungan

Kadang-kadang bila kita merasa sendirian sebagai orang Kristen, yang dikelilingi oleh orang-orang yang tidak memiliki iman yang sama dengan kita, terdapat suatu tekanan untuk menyesuaikan diri dengan mayoritas. Kita semua sudah pernah memahami hal itu. Terkadang, mayoritas ingin melakukan sesuatu yang jelas bukan sesuatu yang akan dilakukan Yesus. Apakah kita akan ikut atau apakah kita teringat kepada siapa yang kita layani?

Jika kita melakukan apa yang hendak dilakukan Yesus, kita berada di dalam mayoritas Tuhan. Mungkin saja hasilnya akan lebih sedikit dari antara semua rekan lama yang berada di pihak kita. Namun ditemani oleh Tuhan sebagai sahabat mengimbangi semua yang lainnya.

Mungkin kita tidak selalu mudah untuk melakukan apa yang hendak dilakukan Yesus, tetapi kita layak melakukannya.

Kasihilah Sesamamu

Foto: Istimewa

Kasihilah Sesamamu

“Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka. Itulah isi seluruh hukum Taurat dan kita para nabi.” Matius 7:12

Jadilah orang yang sedemikian dan jalanilah kehidupan sedemikian sehingga jika setiap orang hidup seperti Anda dan setiap kehidupan seperti kehidupan Anda maka bumi ini akan menjadi Taman Firdaus Allah. (Phillips Brooks)

Renungan

Bayangkanlah Anda mampu meringkas semua ini ajaran Perjanjian Lama dengan kata-kata yang sederhana “Lakukanlah kepada orang lain apa yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu”. Inilah ringkasan dari “Apa yang hendak dilakukan Yesus?” Jika kita melakukan hal ini setiap harinya tanpa peduli dengan apa yang dilakukan oleh orang lain sebagai tanggapannya, maka kita akan mengetahui bahwa iman kita bisa menular.

Mencukupkan Diri dalam Segala Hal

Ilustrasi. Hidup berkecukupan. (Foto: Istimewa)

Kamis, 27 Juli 2017

“Kukatakan ini bukanlah karena kekurangan, sebab aku telah belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan.” Filipi 4:11

Tidak merasa cocok dengan berbagai hal, tindakan dan peristiwa di mana Tuhan – dalam kemurahan hatiNya – telah menganggap cocok untuk meletakkan semuanya itu di sekitar kita, atau dengan kata lain, kita tidak menerima semua itu dengan roh yang rendah hati, penuh iman dan syukur – adalah berarti berpaling dari Tuhan.

Sebaliknya, memandang semua itu sebagai kehadiran Tuhan yang berkembang dan dari kehendak Tuhan dan menerima kehendak itu artinya berpaling ke arah yang berlawanan dan menjadi satu dengan Dia. (Thomas C. Upham)

Renungan

Bagaimana jika tahap hidup Anda sekarang ini tidak pernah berubah – bisakah Anda bahagia? Anda bisa jika Anda memahami bahwa kebahagiaan tidak tergantung pada keadaan. Terimalah keadaan Anda sekarang dan carilah Tuhan untuk mendorong Anda maju, dengan tekad bahwa kepuasaan Anda tidak bergantung pada hal-hal lain yang diberikan olehNya, tetapi pada Dia.

4 Pengusaha Ini Bangkit Ketika Karirnya Sudah di Ujung Tanduk

Ilustrasi. Depresi. (Foto: Istimewa)

(Suara Gratia) Cirebon – Pernahkah Anda merasa bisnis yang sudah dirintis dari nol sudah berada di ujung tanduk atau mengalami gejala-gejala kebangkrutan? Anda tidak sendiri. Bahkan pengusaha sukses di luar sana pasti mengalami kegagalan. Lalu apakah mereka menyerah? Bagaimana mereka menanggapi kegagalan yang sudah di ujung mata?

Empat pengusaha berikut mungkin bisa menjadi inspirasi bagi Anda yang bisnisnya sedang berada di ujung tanduk.

  1. Barbara Corcoran

Barbara Corcoran adalah pendiri The Corcoran Group, sebuah agen perumahan mewah terbesar di New York, Amerika Serikat. Mengawali karir sebagai seorang pelayan, Corcoran kemudian membangun bisnis dengan pacarnya kala itu, Simon, senilai 1000 dolar. Selama tujuh tahun, mereka sukses membangun perusahaan yang mencakup 14 agensi perumahan mewah di New York.

Namun, tak disangka Simon memberi ‘kejutan’ kepada Barbara dengan mengatakan ia akan menikahi sekretaris Corcoran. Saat itu, Corcoran seperti disambar petir dan rasanya ingin mati saja. Dia juga berpikir untuk menyerah.

Tapi pikiran itu ditepisnya. Corcoran mengambil separuh bisnis agensi tersebut dan mengambil tujuh pegawai penjualan bersamanya. Tahun 2001, ia menjual Corcoran Group dengan nilai jual 66 juta dolar. Setelah menjual bisnisnya, ia terus berjuang menemukan jalannya sendiri sebagai pengusaha.

  1. Cam Mirza

Pendiri Mirza Holdings dan The $500 Milion Man, Cam Mirza telah delapan kali gagal  dalam membangun usahanya dan sekarang telah memimpin perusahaan yang nilainya miliaran dolar dengan 600 pegawai.

“Saya sudah gagal berkali-kali dalam bisnis dimana memulai dari awal adalah sesuatu yang familiar. Saya memberi waktu kepada diri saya sendiri tiga hari untuk berduka atas kehilangan bisnis saya atau kegagalan yang besar. Setelah itu, saya membuat rencana untuk membangun modal dan infrastruktur untuk membuat sesuatu yang baru,” ungkap Cam Mirza, seperti yang dilansir dari jawaban.com.

Cam kemudian membuat pengingat beberapa kali dalam sehari untuk tetap fokus dalam mengeksekusi rencana yang telah dia buat.

  1. Jim Mathers

CEO dari North American Energy Advisory, Inc Jim Mathers ditendang oleh perusahaannya yang sudah ia bantu bertumbuh 300 persen. Saat itu ia mulai berpikir untuk memiliki bisnis sendiri dan menjadi tuan atas takdirnya. Kejadian ini sudah terjadi sekitar 20 tahun yang lalu.

“Saya tidak pernah kehilangan kepercayaan atas kemampuan saya. Saya fokus kepada kemampuan saya untuk membuat segalanya benar. Saya tetap positif dan menggunakan kejadian yang menyedihkan ini untuk memaksa diri saya berpikir lebih besar dari sebelumnya,” kata dia.

  1. John Hanna

“Saya gagal tiga kali,” ungkap John Hanna, penulis buku “Way of the Wealth” dan CEO Fairchild Group.

“Dari pengalaman, pola pikir Anda adalah segalanya. Ambil waktu untuk mengatur ulang sikap Anda. Gagal itu sangat berat, bahkan pengalaman yang meremukkan, tetapi berputar-putar dengan sikap seorang pecundang membuatnya tambah berat. Jangan ada pesta mengasihani diri! Kemudian, temukan kembali alasan mengapa kamu dulu memulai usahamu. Apa yang menjadi tujuanmu? Gunakan itu menjadi motivasi utama untuk bangkit kembali. Semua kejadian dramatis akan berlalu, tetapi kita harus memilih ke arah mana sesudahnya; ke atas atau ke bawah.” (jawaban.com)

 

Tukang Cuci Piring

Ilustrasi. Cuci piring. (Foto: Istimewa)

 

Bacaan: Yesaya 9:5

“Mereka tak peduli apa pun arahan saya”, keluhnya. Dulu, panitia memintanya menjadi penasihat. “Anda sangat kompeten”, kata mereka waktu itu. Ternyata, mereka hanya memanfaatkan popularitasnya. Panitia bertindak sesuka hati. Pertimbangannya tidak pernah digubris. Jika kesulitan timbul, barulah mereka datang memintanya memberi solusi. “Tak ada gunanya saya di sana”, ujar pria itu. “Saya akan mengundurkan diri”.

Diposisikan seakan terhormat, tetapi perkataannya diabaikan, nasihatnya tak digubris. Hanya tiap kali masalah datang, diminta memberikan solusi. Seperti itulah sikap kita kepada Tuhan. Puja-puji kita nyanyikan untuk- Nya. Kita sanjung Dia sebagai Penasihat Ajaib. Tetapi, de facto, kita tidak menggubris nasihat-Nya. Kita melangkah tanpa memedulikan kehendak-Nya. Jika masalah datang, barulah kita mengungsi kepada-Nya.

Penasihat Ajaib itu kita jadikan “Tukang Cuci Piring”, tidak pernah kita ajak berembug tentang bagaimana perhelatan akan kita adakan, tetapi Dia selalu kita limpahi semua kesulitan setelah pesta usai. Tiap kali ada persoalan yang kita tak mampu menangani, “Tukang Cuci Piring” itu kita minta untuk mengatasi.

Kitab Amsal menasihati, “Akuilah Dia dalam segala lakumu”. Jangan hanya mengakui kuasa dan kebaikan-Nya, tetapi hormati dan akui juga kehendak-Nya dan kedaulatan-Nya. Jangan jadikan Dia Penasihat yang tak pernah didengar, jangan jadikan Dia “Tukang Cuci Piring” dalam “pesta semau gue” hidupmu, tetapi dengarkan kehendak-Nya, dan berjuanglah mewujudkan itu. (Renungan Harian)

Tiga Keajaiban Di Jumat Agung

good-friday-3JUMAT Agung adalah hari yang istimewa. Tidak biasanya orang Kristen bersekutu pada hari Jumat. Hari persekutuan dan ibadah Kristen sepanjang segala masa adalah hari pertama dalam seminggu. Bukan hari keenam, atau Jumat. Dan kalau anak-anak kita bertanya: “Mengapa Jumat Agung lain dari Jumat-Jumat yang biasa? Jawaban yang pasti dari para orangtua: “Karena pada hari Jumat Agung Yesus Kristus mati. Ia disalibkan dan menyerahkan nyawanya sebagai tebusan bagi banyak orang”. Tentu saja jawaban ini benar. Tuhan Yesus mati pada hari Juma

Jumat Agung adalah hari yang unik. Kalau Matius hanya mencatat dua hal luar biasa. Lukas mencatat bagi kita tiga kejadian ajaib yang membuat Jumat yang satu itu lain dari kebanyakan hari Jumat. Pertama, kegelapan meliputi seluruh daerah itu selama tiga jam. Kedua, tabir Bait Suci terbelah dua. Ketiga, kepala pasukan penyaliban memuliakan Allah di depan umum. Tulisan ini akan terfokus pada ketiga keajaiban di Jumat yang Agung. Pertama: ada kegelaan meliputi seluruh daerah itu dari jam dua belas sampai jam tiga.

Matahari tidak mau bersinar. Bumi menjadi gelap. Mengapa begitu? Para ilmuwan bisa saja menjawab: ya itu terjadi karena gerhana matahari total yang terjadi pada waktu itu. Jawaban ini tidak mungkin. Karena gerhana matahari hanya bisa terjadi jika bulan gelap. Tetapi pada saat itu orang Yahudi merayakan paskah. Perayaan paskah selalu terjadi pada saat bulan purnama. Menurut perhitungan kalender Israel bulan baru selalu mulai dengan awal munculnya bulan. Hari keempat belas dari bulan baru, yaitu saat dimana domba paskah harus disembelih, jatuh sama dengan bulan purnama. Pada waktu itu posisi bulan berseberangan dengan matahari. Bumi berada di antara bulan dan matahari. Gerhana matahari hanya mungkin terjadi kalau bulan berada di antara matahari dan bumi.

Jadi gelap gulita yang terjadi pada hari Jumat Agung tidak ada sangkut paut dengan gerhana matahari. Kegelapan saat itu adalah sebuah kejadian yang janggal. Ia bukan gejala alam biasa, yakni gerhana matahari. Lalu apa sebenarnya penyebab kegelapan itu?

Saya ajak kita melakukan anjangsana ke perjanjian lama. Baiklah kita ingat kembali kisah penciptaan. Kalimat pertama dari Alkitab berbunyi: “Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi. Bumi belum terbentuk dan kosong. Gelap gulita menutupi samudera raya”.

Bumi berada dalam gelap. Bumi baru mengenal terang waktu Allah mulai bertindak. Itu sebabnya Kitab Kejadian melaporkan bahwa pekerjaan yang dilakukan Allah pada hari pertama adalah “menjadikan terang”. Terang datang dari Allah. Karya Allah identik dengan terang. Dan karya Allah berlangsung dalam terang.

Allah menciptakan terang pada hari pertama. Tapi itu saja belum cukup. Pada hari keempat, terang itu dilipatgandakan lagi oleh Allah dengan menciptakan benda-benda penerang. Apakah dengan itu gelap sudah terusir dari dunia? Ternyata tidak. Kegelapan masih saja ada. Yesaya 9:1 masih bicara tentang bangsa yang berjalan dalam kegelapan. Bagaimana itu mungkin, padahal Allah sudah menjadikan terang dan membuat benda-benda penerang?

Rupanya betapa pun baik dan berguna terang itu, ia tidak mampu menghalau semua kejahatan dari muka bumi. Karena terang itu hanyalah ciptaan. Untuk benar-benar menghalau kegelapan dari muka bumi, terang yang sejati harus datang ke dalam dunia. Yesuslah terang yang sejati. Terang yang sesungguhnya. Terang yang diciptakan Allah pada hari pertama dan yang dipancarkan dari benda-benda penerang hanyalah pantulan atau refleksi dari terang yang sejati itu. Terang dalam Kejadian 1:3 dan terang yang dipancarkan benda-benda penerang, yaitu matahari, bulan dan bintang, tidak memiliki terang sendiri. Mereka menjadi terang karena ada terang yang sejati, yaitu Allah. Manusia harus dapat mengerti terang dan fungsinya jika mereka ada dalam terang. Itu sebabnya pemazmur 36:10 berkata: in lumine tou videmus lumen yang artinya: “dalam terangmu kami melihat terang”.

Lalu apa hubungan gelap gulita di Jumat yang Agung dengan data yang saya kemukakan ini? Yang pertama, dengan cerita ini Lukas hendak menegaskan bahwa dunia kembali kepada keadaannya semula. Dunia benar-benar hidup tanpa Allah pada saat Yesus menghembuskan nafasnya yang terakhir. Itu sebabnya dunia diliputi kegelapan. Bukan kegelapan biasa karena gerhana matahari. Tetapi kegelapan luar biasa. Kegelapan yang dahsyat, kegelapan karena hidup tanpa Allah. Dan memang demikian adanya. Dua belas jam terakhir dari kisah hidup Yesus memperlihatkan betapa kejamnya manusia. Manusia telah benar-benar hidup tanpa Allah. Hati mereka menjadi gelap. Mereka bukan hanya memutarbalikkan kebenaran. Tetapi berusaha membunuh kebenaran. Manusia bukan hanya menangkap dan mengadili Yesus dalam kegelapan. Mereka juga ingin memusnahkan terang yang sejati itu dari muka bumi.

Gelap gulita di Golgota pada Jumat yang Agung ini menunjukkan bahwa dunia dan manusia belum melangkah jauh dalam hal kebenaran dan kasih. Umur dunia sudah tua, tapi manusia yang menduduki dunia masih ada pada titik start, nol kilometer.

Kedua, matahari menjadi gelap, karena Tuhan yang adalah sumber dari mana matahari memperoleh terang telah tiada. Seumpama lampu, nyala api matahari padam karena minyak yang menyalakannya sudah habis. Kristus sudah mati. Terang yang sesungguhnya sudah tiada. Matahari menjadi malu dan tidak tahan melihat bagaimana kejamnya perlakuan manusia terhadap sang terang. Itu sebabnya matahari menutup matanya. Ia tidak mau bersinar. Dalam Kitab Matius dan Lukas dikisahkan bahwa bukan hanya matahari yang menjadi gelap. Tetapi ada juga gempa bumi yang dahsyat. Bumi gemetar ketakutan waktu menyaksikan sumber hidup dan sang penciptanya dilumatkan oleh kuatnya dosa dan pemberontakan manusia.

Inilah arti dari kejadian ajaib pertama di Jumat Agung. Tapi, kuatnya dosa itu tidak berlangsung lama. Kejahatan yang bersimaharajalela, bahkan sampai menyerang Allah tidak bertahan. Ia hanya berlangsung sekejap. Hanya tiga jam. Memang cukup lama, tetapi tidak selamanya. Kegelapan pasti akan berlalu. Kejahatan tidak punya masa depan. Pada hari paskah nanti, hari kebangkitan Yesus, ia akan benar-benar pergi dan takluk pada sang terang dunia. Ini juga pelajaran penting bagi kita. Kejahatan memang ganas tetapi seganas apa pun kejahatan itu, ia tidak punya masa depan. Akan tiba waktunya dimana kejahatan dilucuti dan para pelaku kejahatan akan dihadapkan ke pengadilan. Sekarang mungkin tidak, karena pengadilan dan para hakim kita masih hidup tanpa Allah waktu hendak mengambil keputusan. Tapi nanti, waktu sang hakim yang agung itu datang semua kejahatan akan tersingkap.

Tanda ajaib yang kedua: tirai Bait Allah terbelah dua. Di Bait Allah tergantung dua tirai/layar. Yang pertama di pelataran depan yang memisahkan ruang untuk umum dan ruang yang kudus. Layar kedua tergantung di antara ruang kudus dan ruang maha kudus. Mana dari kedua layat ini yang terbelah tidak disebut dalam Alkitab. Kita hanya bisa menduga. Terbelahnya tirai ini tentu punya maksud atau pesan. Kalau maksudnya untuk mengumumkan bahwa jalan kepada Allah sekarang terbuka kepada semua manusia, maka yang tercabuk itu haruslah tirai yang memisahkan ruang kudus dan ruang maha kudus. Tetapi ini berarti hanya imam besar saja yang melihat dan mengetahui hal itu.

Sudah pasti bukan ini yang dimaksudkan Lukas. Tirai yang tercabik yang dimaksud Lukas haruslah tirai yang ada di antara ruang untuk umum dan ruang kudus. Dan kalau itu yang terjadi, maka tercabiknya tirai tadi hendak menegaskan bahwa dengan kematian Yesus Allah mengumumkan bahwa Ia tidak mau lagi terkurung hanya dalam Bait Allah dan hanya bisa ditemui di gedung kebaktian. Sejak saat itu Allah tidak hanya bisa ditemui di Bait Allah. Ia ada dalam perjalanan kepada bangsa-bangsa. Dia mau juga disembah dan dihormati di tempat-tempat yang bukan gedung kebaktian atau Bait Allah. Bukan hanya para imam saja yang dapat berbicara dan melayani Dia. Orang kebanyakan juga dapat bertemu Tuhan Allah secara langsung.

Pesan ini sesuai dengan dengan teologi kitab Injil Lukas. Karena keyakinan ini, Lukas tidak segan-segan bercerita tentang pekabaran Injil yang mulai dari Yerusalem sampai ke ujung bumi. Lukas juga memperoleh keberanian untuk menulis kepada seorang bukan Yahudi (Teofilus) dengan maksud meyakinkan dia bahwa cerita tentang Yesus adalah benar. Bahkan hanya Lukas sajalah yang memuat cerita tentang orang Samaria yang murah hati (Luk. 10:25-37). Cerita yang memberikan kepada kita kesan sangat mendalam bahwa pelayanan dan penyembahan kepada Allah tidak melulu terjadi di Bait Allah atau tempat doa. Menolong sesama yang sedang dalam kesulitan, mengasihi dan memberi perlindungan kepada seorang asing atau dia yang memusuhi kita adalah perbuatan beribadah kepada Tuhan.

Kita yang merayakan Jumat Agung perlu tahu keajaiban ini, sehingga mulai belajar untuk menyembah Allah bukan hanya di gedung ibadah dan rumah doa, tetapi juga di setiap tempat dimana saja kita berada.

Keajaiban ketiga, seorang non Yahudi, bangsa tidak bersunat, kepala pasukan penyaliban berkata di hadapan umum: “Sungguh, orang ini adalah orang benar374Kita lihat di sini bahwa Allah tidak menyembunyikan kebenaran kepada orang non Yahudi. Allah adalah Tuhan yang tidak diskriminatif. Kasih juga tidak pilih muka. Allah memberikan kepada orang yang percaya maupun orang kafir kemampuan untuk mengenal kasih dan menghormatinya.

Tidak ada dosa yang begitu berat sehingga menghalang-halangi kuasa Allah. Tidak. Kepala pasukan penyaliban digerakkan hatinya oleh Allah untuk mengenal kasih dan kebenaran. Dengan mengakui bahwa Yesus adalah orang benar di depan umum, ia mengaku diri sebagai yang melakukan satu tindakan yang salah dan keliru. Si kepala pasukan penyaliban tidak berusaha membela diri, ia mengakui kekeliruannya dengan terbuka dan jujur.

Seorang kepala pasukan mengaku diri berbuat kesalahan dan kekeliruan. Itu diucapkan di depan umum. Lukas melihat ini sebagai sebuah keajaiban. Ia mencatat ini dalam kitab yang dia peruntukan kepada Teofilus, seorang pejabat tinggi dalam pemerintahan Roma waktu itu. Ia tentu mencatat keajaiban ini dengan maksud agar mendorong Teofilus waktu itu, dan Teofilus-Teofilus masa kini untuk meniru contoh kepala pasukan penyaliban.

Akhirnya, Lukas memberi kesaksian bahwa pada Jumat Agung yang pertama ada tiga peristiwa ajaib. Kita sudah lihat keajaiban itu satu persatu. Tentu saja tidak dengan maksud mengatakan bahwa keajaiban-keajaiban itu hanya terjadi pada Jumat Agung yang pertama saja. Lukas catat hal itu untuk mendorong kita agar menjadikan Jumat Agung yang kita peringati kini dan di sini juga menjadi Agung yang di dalamnya ada keajaiban-keajaiban yang bisa disaksikan orang lain.  Dr. Eben Nuban Timo / sabda.org

ARUS YANG MENGHANYUTKAN

Sebagai umat Tuhan , setiap waktu kita terhubung dengan hal-hal duniawi yang tidak bisa kita hindarkan. Dalam pekerjaan, sekolah, komunitas, masyarakat, semua hal kita terhubung dengan dunia ini. Dan tahukah anda, ada sebuah sifat dari dunia ini, yaitu menghanyutkan, dan ini adalah hal yang sangat serius buat setiap kita. Seperti sebuah sungai yang mengalir terus, begitu ada sebuah benda yang terjatuh pada sungai tersebut, maka benda itu akan terhanyut menuju arus kemana air itu mengalir. Lanjutkan membaca “ARUS YANG MENGHANYUTKAN”

“……?” terserah deh.

Menjatuhkan sebuah pilihan adalah hal yang sulit dalam hidup kita, apalagi keputusan itu di desak dengan waktu yang sangat singkat. Sebuah kata andalan dari sebuah jawaban yang kita lontarkan adalah “terserah’. Sebagai contohnya, ketika anda sebagai teman komunitas ingin makan bersama dengan sahabat-sahabat anda, entah karena malas berpikir tetapi banyak orang yang pada akhirnya mengatakan terserah. Fakta yang sebenarnya adalah mereka semua lapar dan tanpa disadari waktu itu terus berjalan ketika tidak juga adanya keputusan yang dihasilkan.Dalam hal seperti ini, kita sudah membuang-buang waktu dan biasanya keputusan akhir adalah keputusan bukan yang terbaik. Lanjutkan membaca ““……?” terserah deh.”

KARAKTER DAN PROSES

Keluarga Gratia…

Waktu usia kita masih tergolong anak-anak, kita sering mengidolakan tokoh-tokoh bahkan  mungkin sampai kita beranjak usia dewasa pun ini masih terjadi dalam kehidupan kita.

Sebenarnya hal apa yang menjadikan seseorang menjadi  idola untuk orang lain? Tentu jawaban kita pun akan beranekaragam, dari fashion, gaya rambut, gaya bicara atau mungkin sampai karakter yang dimiliki seseorang yang menjadikan mereka seorang idola untuk orang lain. Dan menurut survei mengenai alasan mengapa seseorang dikagumi banyak orang menyebutkan sifat-sifat seperti sabar, lemah lembut, jujur dan sifat-sifat baik lainnya, tidak ada dari semua jawaban yang diberikan bahwa mereka yang mengagumi orang karena orang tersebut bisa menyembuhkan, bernubuat, melakukan mujizat atau bahkan karunia-karunia lain yang diberikan Tuhan.

Maka dapat disimpulkan bahwa kita semua bisa lebih menjadi saksi dan dikagumi dengan menunjukkan sifat-sifat yang lebih “MANUSIAWI” daripada sifat “SUPRANATURAL”.

Karunia memang penting tetapi karakter jauh lebih penting. Memang Tuhan memberikan beberapa karunia terhadap beberapa orang untuk menyembuhkan, bernubuat atau yang lain-lain, dan hal tersebut sangatlah mengagumkan, tetapi yang utama adalah karakter. Karunia apapun tidak akan berarti tanpa karakter yang baik.

Karunia sifatnya diberikan. Tuhan memberikan karunia kepada seseorang secara cuma-cuma tetapi karakter yang baik terbentuk melalui proses belajar dan hubungan kita dengan-NYA. Tuhan membentuk karakter kita lewat orang-orang di sekitar kita ( orangtua, suami/istri, sahabat, teman, rekan kerja,dll  ), melalui hubungan kita dengan sesama mereka dipakai  untuk membentuk karakter kita.

AMSAL 27 : 17 “Sebagaimana baja mengasah baja, begitu pula manusia belajar dari sesamanya”

Sampai kapan proses tersebut kita jalankan? Pembentukan karakter seseorang tidak akan pernah instan, semua kita jalani dengan proses waktu yang cukup panjang, bahkan seumur hidup kita.

So, nikmati prosesnya dan harapkan hasilnya. God Bless, Keep On Fire! ( LDS )