BUKAN TANPA MASA DEPAN

Manusia standar adalah mereka yang selalu sesuai keadaan. Tertawa jika ada yang lucu, menangis jika ada yang mengharukan dan atau menyedihkan, cemberut ketika ada yang mengecewakan, termangu jika ada yang mengherankan, terperanjat jika ada yang mengejutkan, dan banyak semacam itu untuk disebutkan.

Jika ada yang menangis untuk hal yang lucu, maka ia tidak standar. Demikian juga mereka yang dalam segala perkara hanya tertawa atau hanya menangis. Lain lagi dengan mereka yang diam saja untuk segalanya mereka disebut sebagai orang yang dingin, hampir senada tetapi berbeda dengan manusia kaku.

Manusia ilahi adalah mereka yang bergembira saat mujur dan mengingat bahwa Allah yang memberi hari malang sama seperti hari mujur yang sama-sama dijadikan oleh Allah. Mengingat bahwa hari malang itu dijadikan Allah berarti menerima dengan lapang dada kemalangan yang terjadi, tidak bersedih, atau paling tidak jangan sampai larut dalam kesedihan.

Hari mujur dan hari malang dijadikan silih berganti oleh Allah dimaksudkan supaya manusia tidak menemukan sesuatu mengenai masa depannya. Salahkah berharap tentang masa depan yang cerah dan mempersiapkannya dengan baik? Itu penting tetapi jangan hidup terfokus untuk itu sebab yang penting ialah selalu berserah dan berharap pada Allah setiap waktu.

Manusia standar bisa terhilang di dalam hiruk-pikuk dunia tetapi manusia ilahi selalu terarah pada Allah yang menyiapkan masa depannya sehingga ia selalu bergembira pada hari mujur dan selalu punya alasan bergembira pada hari malang.

“Janganlah hatimu iri kepada orang-orang yang berdosa, tetapi takutlah akan TUHAN senantiasa. Karena masa depan sungguh ada, dan harapanmu tidak akan hilang.” (Amsal 23:17-18)

AYAT ALKITAB HARIAN
Iklan

Ayat Alkitab Harian, 28 Januari 2022


Apa yang kita pikirkan ketika membaca kisah tokoh-tokoh Alkitab seperti Musa, Petrus, Elia, Gideon, dan para tokoh Alkitab lainnya? Pastilah kita terkagum-kagum pada mereka. Mereka adalah orang-orang yang melakukan hal-hal luar biasa untuk Tuhan.

Biasanya kisah mereka kerap diangkat oleh guru-guru Sekolah Minggu untuk menggambarkan betapa hebatnya kuasa Tuhan lewat orang yang dipakai oleh-Nya.

Padahal jika kita membaca lagi di dalam Alkitab, kita akan menemukan bahwa sesungguhnya mereka ini adalah orang-orang biasa; seperti kita. Lalu apa yang membuat mereka tampak berbeda? Salah satunya karena mereka mengandalkan kuasa Tuhan.

Dari kisah-kisah mereka kita bisa belajar bahwa melayani dengan mengandalkan kuasa Tuhan akan memberi dampak luar biasa.

Karena itu ketika kita terjun ke dalam pelayanan, janganlah merasa rendah diri karena kita tidak dapat melakukan hal yang hebat seperti orang-orang yang memiliki kemampuan khusus. Lakukanlah pelayanan sesuai dengan kemampuan unik kita. Penting juga untuk melatih diri dan mengembangkan diri di bidang masing-masing, dengan tetap bersandar pada Tuhan, agar kuasa Tuhan bekerja melalui kita.

DAMPAK KEMALASAN

Baca: Amsal 18:1-24

“Orang yang bermalas-malas dalam pekerjaannya sudah menjadi saudara dari si perusak.” (Amsal 18:9)

Hal yang sangat tidak disukai oleh orang dan sekaligus menjadi sesuatu yang bertentangan dengan kehendak Tuhan adalah sifat malas. Dalam perumpamaan tentang talenta (baca Matius 25:14-30), si tuan kecewa dengan hamba yang dipercaya menerima satu talenta karena ia tidak mengembangkannya, melainkan menyembunyikannya di dalam tanah. “Hai kamu, hamba yang jahat dan malas, jadi kamu sudah tahu, bahwa aku menuai di tempat di mana aku tidak menabur dan memungut dari tempat di mana aku tidak menanam?… Dan campakkanlah hamba yang tidak berguna itu ke dalam kegelapan yang paling gelap. Di sanalah akan terdapat ratap dan kertak gigi.” (Matius 25:26,30). Hamba yang malas harus menuai akibat kemalasannya itu.

Tuhan telah memberi kita kemampuan atau karunia dengan maksud supaya kita berkarya dan mengembangkan kemampuan tersebut semaksimal mungkin, sebab pada saatnya akan kita pertanggungjawabkan di hadapan Tuhan. Alkitab menyatakan bahwa orang yang malas disebut jahat, bahkan disebut sebagai perusak (ayat nas). Mengapa? Karena Tuhan telah memiliki rancangan hal-hal baik bagi setiap orang percaya, tapi Ia menghendaki adanya kerjasama, ada bagian yang harus kita kerjakan untuk menggenapi rencana-Nya. Namun karena kita malas dan tidak mau membayar harga, semua rancangan Tuhan atas kita menjadi berantakan bukan karena Tuhan tidak sanggup melaksanakan rencana-Nya, tetapi karena kita sendiri yang tidak mau taat.

Ketahuilah bahwa kemalasan hanya akan berdampak buruk: merusak masa depan, impian dan harapan menjadi buyar, menghambat kemajuan dan cenderung mengalami kemunduran, menyebabkan penderitaan karena tidak ada kekayaan yang akan singgah di dalam rumah pemalas, sebab “Tangan yang lamban membuat miskin, tetapi tangan orang rajin menjadikan kaya.” (Amsal 10:4). Akhirnya para pemalas bisanya hanya mengeluh, bersungut-sungut, menjadi beban bagi orang lain, kecewa dan ujung-ujungnya berani menyalahkan Tuhan.

“Oleh karena kemalasan runtuhlah atap, dan oleh karena kelambanan tangan bocorlah rumah.” (Pengkhotbah 10:18)

Sumber : Renungan & Ilustrasi Kristen

SELAMAT KARENA KEBIASAAN

Inspektur polisi kota New York, Frank Reagan, punya janji untuk makan malam bersama dengan Asisten Jaksa Wilayah, yang adalah putrinya sendiri, Erin Reagan.

Akan tetapi, pada waktunya, ditunggu-tunggu Erin tak kunjung datang. Padahal biasanya ia selalu tepat waktu.

Adegan dalam film Blue Bloods ini segera berpindah. Di kantornya yang sudah tutup dan sepi, Erin Reagan sedang terancam upaya jahat dari seorang pembunuh psikopat.

Tepat pada saat genting itu, ayahnya datang menyelamatkannya. Pembunuh itu dihajar timah besi dari pistol Frank Reagan.

Kitab Amsal banyak mengusung tema pendidikan. Kunci pendidikan terletak pada kebiasaan yang dibangun lewat pengulangan dari waktu ke waktu. Akhirnya, kebiasaan yang terbentuk itulah yang mengendalikan sebagian besar dari perilaku dan tindakan kita.

Bagaimana didikan sewaktu muda mampu bertahan terus hingga masa tua kita? Jelas, itu karena faktor kebiasaan yang telah berbuah menjadi karakter seumur hidup! Maka, jangan meremehkannya. Tak heran, kebiasaan buruk bisa menjadi jerat yang membawa celaka.

Namun, juga sebaliknya, kebiasaan baik mampu menyelamatkan seseorang seperti tergambar dalam adegan film Blue Bloods tadi. Kebiasaan tepat waktu membangkitkan rasa curiga ayahnya dan akhirnya menyelamatkan nyawa Erin Reagan.

Kehidupan kita amat ditentukan oleh kebiasaan yang terbentuk dalam diri kita-entah baik atau buruk. Jadi, jangan pernah jera membangun kebiasaan baik, itu baik untuk kita. Sekarang dan kelak.

“Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada masa tuanyapun ia tidak akan menyimpang dari pada jalan itu.” (Amsal 22:6)

%d blogger menyukai ini: