#UKSW500K


UKSW Salatiga memberikan kesempatan kepada semua anak-anak muda dari seluruh penjuru Indonesia untuk dapat bergabung dalam keluarga besar Kampus Indonesia mini hanya dengan membayar Rp. 500.000*
Informasi lebih lanjut hubungi hotline 0811 2624 500 atau melalui email admisi500k@uksw.edu

Meski Pasien Covid Bertambah, Cirebon Terapkan AKB

Kepala Dinas Kesehatan Kota Cirebon Edy Sugiarto saat rapat evaluasi Pemberlakuan Sosial Berskala Besar (PSBB) di Kota Cirebon, Jumat (26/6). (Foto: Humas Pemkot Cirebon)

(Suara Gratia), CIREBON – Kasus positif corona virus desease (Covid) 19 kembali bertambah empat kasus setelah sebelumnya Kota Cirebon nihil virus corona. Namun rupanya bertambahnya kasus virus corona ini tetap membulatkan tekad Pemerintah Daerah Kota Cirebon untuk mengakhiri pembatasan sosial berskala besar (PSBB) dan menggantikannya dengan AKB atau adaptasi kebiasaan baru.

“Info yang kami terima, draft penerapan AKB di Jabar kecuali Bodebek (Bogor, Depok dan Bekasi) telah diajukan Gubernur ke Kementerian Kesehatan,” kata Asisten Pemerintahan Bidang Kesejahteraan Masyarakat (Kesra) Setda Kota Cirebon, Drs. Sutisna M. Si usai mengikuti rapat evaluasi Pemberlakuan Sosial Berskala Besar (PSBB) di Kota Cirebon, Jumat (26/6).

Namun, lanjut dia, dengan catatan AKB hanya dilakukan oleh wilayah yang tidak memiliki kasus positif covid 19. Sementara daerah lainnya seperti Sunyaragi dan Pamitran tetap harus melakukan pembatasan sosial berskala mikro (PSBM). Aturan PSBM tersebut nantinya akan tertuang dalam Peraturan Walikota (Perwali).

Dalam aturan AKB, karantina skala mikro akan terjadi  bila ada temuan kasus baru di sejumlah tempat seperti pusat perbelanjaan, tempat ibadah, dll. Sedangkan untuk tempat hiburan, izin akan ditinjau kembali sambil memeriksa kembali pernyataan kesiapan pengelola untuk menerapkan protokol kesehatan dan penyediaan peralatan pendukungnya.

“Nantinya dari Pemda Kota Cirebon akan memeriksa langsung di lapangan, jika terjadi temuan kasus positif maka akan langsung ditutup (PSBM),” kata Sutisna.

Sementara itu, Penjabat Sekretaris Daerah Kota Cirebon (Pj Sekda) Nanin Hayani mengungkapkan beberapa sektor ekonomi sudah mulai dibuka ketika AKB sudah dimulai. Namun untuk sektor pendidikan, masih terus dilakukan di rumah karena risiko tingkat penularan terbilang tinggi.

“Aktivitas sekolah mulai 13 Juli 2020 tapi sistem belajarnya masih tetap dilakukan di rumah secara online,” kata dia.

Rapid Test Lebih Masif

Sementara itu Kepala Dinas Kesehatan Kota Cirebon Edy Sugiarto memaparkan selama masa AKB test swab dan rapid test akan terus dilakukan untuk mencegah penyebaran covid 19.

“Test swab di Kota Cirebon jumlahnya 5.000 test yang berasal dari Pemprov Jabar 1.200 test dan sisanya dari Pemda Kota Cirebon,” kata dia.

Menurutnya, dengan dibukanya aktivitas masyarakat (AKB) akan membuka peluang penyebaran Covid 19, maka dari itu test swab akan terus dilakukan secara masif dan tuntas. Namun, tidak dipungkiri bila ada ledakan kasus, maka PSBB harus dilakukan kembali.

“Kesiagaan kami dari tim medis akan lebih tinggi di masa AKB nanti, maka test swab masif akan terus dilakukan,” pungkasnya.

Meskipun AKB sudah bisa diterapkan di Kota Cirebon, pihaknya mengimbau untuk terus melakukan protokol kesehatan seperti menggunakan masker dan cuci tangan. (Humas Pemkot Cirebon)

Tekan Gizi buruk di Kota Cirebon, Anggaran Posyandu akan Ditambah

Wakil Walikota Cirebon Eti herawati mengunjungi Posyandu Kelapa Mudah RW 07 Kayuwalang, Kelurahan Karya Mulya, Kecamatan Kesambi Kota Cirebon pada Senin  (22/6). (Foto: Humas Pemkot Cirebon)

(Suara Gratia), CIREBON – Pemerintah Daerah Kota Cirebon akan menambah anggaran untuk Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) terutama masalah pemberian makanan tambahan (PMT) untuk menekan angka gizi kurang dan gizi buruk.

“Setelah melihat langsung kondisi di lapangan, kami akan evaluasi anggaran untuk Posyandu agar PMT bisa maksimal,” kata Wakil Walikota Cirebon Eti Herawati saat mengunjungi Posyandu Kelapa Mudah RW 07 Kayuwalang, Kelurahan Karya Mulya, Kecamatan Kesambi Kota Cirebon pada Senin  (22/6).

Pada kesempatan yang sama, Anggota Dewan dari Komisi I DPRD Kota Cirebon yaitu R. Endah Arisyanasakanti mengatakan hasil peninjauan tersebut akan menjadi catatan untuk DPRD Kota Cirebon untuk alokasi anggaran Posyandu.

“Kami lihat untuk PMT masih dibantu swadaya masyarakat, maka ini perlu ada penambahan anggaran,” kata dia.

Sementara itu, Ketua Posyandu Kelapa Mudah RW 07 Kayuwalang, Kemah Rosbaya mengatakan akan terus berkomitmen meningkatkan pelayanan dengan memperhatikan berat badan dan pertumbuhan balita di wilayahnya.

“Adapun untuk anak yang gizinya kurang, akan diberikan PMT dari Pemda yang ditambah dari hasil swadaya,” kata dia. (Humas Pemkot Cirebon)

PT KAI Daop 3 Cirebon Operasikan Kembali Kereta Api ke Jakarta

Petugas memeriksa penumpang kereta api. (Foto: Humas PT KAI Daop 3 Cirebon)

(Suara Gratia), CIREBON – PT Kereta Api Indonesia (Persero) secara bertahap mulai mengoperasikan perjalanan kereta api (KA) jarak jauh reguler. Salah satunya adalah dari Cirebon ke Jakarta yang sempat terhenti beberapa bulan selama masa pandemi.

“Mulai Minggu (14/6), KAI akan kembali mengoperasikan dua KA Reguler dengan tujuan Jakarta yaitu KA Bengawan dengan relasi Purwosari (Solo)-Pasar Senen (Jakarta) PP dan KA Tegal Ekspress dengan relasi Tegal-Pasar Senen PP,” kata Manajer Humas PT KAI Daop 3 Cirebon, Luqman Arif.

Dia mengatakan, khusus bagi calon penumpang yang akan bepergian dari dan menuju Provinsi DKI Jakarta harus memiliki Surat Izin Keluar Masuk (SIKM) DKI Jakarta. Kemudian bagi para penumpang yang melakukan perjalanan menggunakan KA Jarak Jauh, para penumpang harus mengenakan perisai wajah (face shield) yang akan disediakan oleh PT KAI selama dalam perjalanan hingga meninggalkan area stasiun tujuan.

Sama seperti persyaratan perjalanan sebelumnya, ada beberapa hal yang harus dipenuhi oleh calon penumpang dan harus ditunjukkan kepada petugas sebelum boarding. Di antaranya adalah menunjukkan surat keterangan uji tes PCR dengan hasil negatif yang berlaku tujuh hari atau surat keterangan uji Rapid-test dengan hasil non reaktif yang berlaku tiga hari pada saat keberangkatan.

Kemudian, menunjukkan surat keterangan bebas gejala seperti influenza yang dikeluarkan oleh dokter rumah sakit atau puskesmas bagi daerah yang tidak memiliki fasilitas test PCR dan atau Rapid-test. Yang terakhir adalah mengunduh dan mengaktifkan aplikasi Peduli Lindungi pada perangkat seluler.

“Secara umum, setiap penumpang kereta api diharuskan dalam kondisi sehat atau tidak menderita flu, pilek, batuk, dan demam. Suhu badan tidak lebih dari 37,3 derajat celsius, wajib menggunakan masker dan menggunakan pakaian lengan panjang atau jaket,” kata dia.

Jika saat proses boarding penumpang tidak memenuhi ketentuan tersebut, lanjut dia, maka tidak diperkenankan melakukan perjalanan dan tiket dapat dibatalkan dengan pengembalian bea penuh.

Baru 6 KA Jarak Jauh yang Beroperasi

Luqman menyatakan hingga saat ini baru ada enam kereta api jarak jauh atau baru empat persen dari total 134 kereta api penumpang reguler yang beroperasi di wilayah Daop 3 Cirebon. Yaitu, KA Ranggajati sebanyak dua kereta, KA Bengawan sebanyak dua kereta, dan KA Tegal Ekspress sebanyak dua kereta.

Setelah dua hari beroperasi sejak 12 Juni 2020, tercatat ada 43 penumpang yang menggunakan KA Ranggajati yang naik dari Stasiun Cirebon. “Dimana pada hari pertama terdapat 16 penumpang, dan pada hari kedua atau hari ini, ada sebanyak 27 penumpang naik dari Stasiun Cirebon,” tambahnya.

Luqman mengimbau kepada para calon penumpang untuk mematuhi protokol kesehatan yang sudah ditetapkan agar penyebaran virus ini bisa dicegah. (Humas PT KAI DAOP 3 Cirebon)

%d blogger menyukai ini: