GUNAKAN STRATEGI SENYUM

Seorang pendeta bercerita tentang pengalamannya berada di gereja selama
12 tahun. Dia memiliki kebiasaan selama kebaktian Minggu pagi untuk memanggil anak-anak ke depan sebelum khotbahnya sehingga mereka dapat pergi ke ‘gereja anak-anak’ khusus untuk mereka. Anak- anak akan berbaris melewati mimbar dan dia akan membuat sebuah titik untuk tersenyum pada mereka masing-masing. Sebagai imbalannya dia menerima senyuman. “Itu adalah salah satu poin tertinggi dari pelayan bagi saya,” kenangnya. Namun suatu hari ia rupanya tidak tersenyum pada seorang anak.

Seorang anak berusia empat tahun berkepala ikal berlari keluar dari prosesi dan melemparkan dirinya ke pelukan ibunya, terisak-isak seolah-olah hatinya hancur. Setelah kebaktian dia pergi untuk mencari tahu apa yang terjadi. Sang ibu menjelaskan kepadanya bahwa anaknya berkata, ‘Saya tersenyum kepada Tuhan, tetapi dia tidak membalas senyuman saya!’ Pendeta itu merenungkan, ‘Untuk anak itu saya adalah wakil Tuhan. Saya telah gagal dengan senyum saya, dan dunia menjadi gelap.’

Saat Anda menjalani hari ini, pastikan diri Anda untuk menggunakan strategi senyum. Anda berkata, ‘Saya punya lebih banyak masalah daripada Ayub, jadi saya tidak punya alasan untuk tersenyum.’ Ayub mengalami lebih banyak masalah dalam setahun daripada yang akan dialami kebanyakan dari kita seumur hidup. Tapi meskipun dia jatuh, dia mengangkat yang lain. Meskipun dia putus asa, dia mendorong orang lain. Bagaimana dia melakukannya? ‘Orang menantikan aku seperti menantikan hujan, dan menadahkan mulutnya seperti menadah hujan pada akhir musim. Aku tersenyum kepada mereka, ketika mereka putus asa, dan seri mukaku tidak dapat disuramkan mereka.’ (Ayub 29:23–24)

Sumber : Buku Renungan Hari Ini
Edisi : Selasa,30Agustus 2022

JAGALAH HATI NURANI ANDA AGAR BERSIH

Di peringatan Mark Twain di Hartford, Connecticut, Anda akan menemukan kata- kata ini dibingkai: ‘Selalu lakukan yang benar. Ini akan memuaskan beberapa orang dan mengejutkan sisanya. Benar-benar milikmu, Mark Twain, New York, 16 Februari 1901.’

Ketika hati nurani Anda diprogram dan diatur oleh Firman Tuhan, itu akan menuntun Anda untuk melakukan hal yang benar setiap saat. Dan itu diciptakan oleh pelajaran pertama yang Anda pelajari tentang benar dan salah; itulah sebabnya, sebagai orang tua, Anda memiliki pekerjaan paling penting di dunia. Jika Anda tidak pernah diajarkan pelajaran itu, Anda gagal mengembangkan hati nurani. Jika Anda mengajari mereka dengan buruk atau tidak lengkap, Anda mengembangkan hati nurani yang kerdil. Jika Anda mengesampingkan hati nurani Anda dan menolak untuk mematuhi suara batinnya, Anda mengembangkan hati nurani yang mengeras dan, seiring waktu, Anda akan menjalani hidup Anda seolah-olah Anda tidak memilikinya sama sekali. Anda akan berkompromi, menutupi, dan mengambil jalan pintas untuk mendapatkan apa yang Anda inginkan.

Anda tidak dapat melihat hati nurani atau otopsi, tetapi Anda dapat mendengarnya berbisik di benak Anda dan merasakannya menarik-narik hati Anda. Dan itulah bisikan dan tarikan yang harus Anda tanggapi agar berjalan dalam berkat Tuhan.

Paulus mengatakan dua hal penting tentang hati nuraninya:
(1) ‘Sebab itu aku senantiasa berusaha untuk hidup dengan hati nurani yang murni di hadapan Allah dan manusia.’ (Kis 24:16)
(2) ‘Saya telah hidup dengan hati nurani yang baik di hadapan Tuhan sampai hari ini.’ Di atas segalanya, jangan abaikan hati nurani Anda—itu sehat atau menjadi tidak sehat. Dan seiring berjalannya waktu, begitu pula karakter Anda, reputasi Anda, dan kualitas hidup Anda.

Sumber : Buku Renungan Hari Ini
Edisi : Sabtu, 30 April 2022

PROSES YANG MENJADI POLESAN

Ayat Alkitab Harian

Anak-anak pilihan akan melalui berbagai macam proses agar iman percaya mereka dapat tumbuh lebih kuat dan lebih kokoh lagi sehingga dapat berdiri teguh di dalam Yesus. Semacam sebuah audisi dan kita semua mempunyai kesempatan yang sama untuk menjadi kontestan. Kita dipilih dan diambil dari latar belakang kehidupan yang berbeda-beda. Seseorang dengan banyak menghadapi berbagai macam permasalahan dan beban hidup, ketika ia bisa menyelesaikan setiap tantangan di dalam kehidupannya dengan mengundang Yesus hadir sebagai Penasihatnya, sebagai Gurunya, dan sebagai Gembalanya, maka ia akan keluar sebagai pemenang.

Dengan takut akan Tuhan, anak-anak pilihan akan dibekali dengan hikmat, pengetahuan, dan kekuatan dari Tuhan untuk menghadapi berbagai macam tantangan. Kita diperlengkapi dengan Alkitab yang menjadi pedoman hidup.”Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu.” (1 Petrus 5:7).

Cobalah dalam keadaan hancur remuk, menangislah sungguh-sungguh kepada Yesus, mintalah Yesus hadir dengan persembahan hati kita yang hancur remuk berurai air mata. Dengan banyak tantangan yang kita hadapi, membuat kita semakin bertekun dan semakin dekat dengan Allah, di situlah kita akan melatih mata hati kita melihat hal-hal yang tidak dapat dilihat dan dirasakan oleh mereka yang belum mengalami proses dan polesan di dalam Yesus.

Sumber :
Renungan & Ilustrasi Kristen

%d blogger menyukai ini: