BUKAN TANPA MASA DEPAN

Manusia standar adalah mereka yang selalu sesuai keadaan. Tertawa jika ada yang lucu, menangis jika ada yang mengharukan dan atau menyedihkan, cemberut ketika ada yang mengecewakan, termangu jika ada yang mengherankan, terperanjat jika ada yang mengejutkan, dan banyak semacam itu untuk disebutkan.

Jika ada yang menangis untuk hal yang lucu, maka ia tidak standar. Demikian juga mereka yang dalam segala perkara hanya tertawa atau hanya menangis. Lain lagi dengan mereka yang diam saja untuk segalanya mereka disebut sebagai orang yang dingin, hampir senada tetapi berbeda dengan manusia kaku.

Manusia ilahi adalah mereka yang bergembira saat mujur dan mengingat bahwa Allah yang memberi hari malang sama seperti hari mujur yang sama-sama dijadikan oleh Allah. Mengingat bahwa hari malang itu dijadikan Allah berarti menerima dengan lapang dada kemalangan yang terjadi, tidak bersedih, atau paling tidak jangan sampai larut dalam kesedihan.

Hari mujur dan hari malang dijadikan silih berganti oleh Allah dimaksudkan supaya manusia tidak menemukan sesuatu mengenai masa depannya. Salahkah berharap tentang masa depan yang cerah dan mempersiapkannya dengan baik? Itu penting tetapi jangan hidup terfokus untuk itu sebab yang penting ialah selalu berserah dan berharap pada Allah setiap waktu.

Manusia standar bisa terhilang di dalam hiruk-pikuk dunia tetapi manusia ilahi selalu terarah pada Allah yang menyiapkan masa depannya sehingga ia selalu bergembira pada hari mujur dan selalu punya alasan bergembira pada hari malang.

“Janganlah hatimu iri kepada orang-orang yang berdosa, tetapi takutlah akan TUHAN senantiasa. Karena masa depan sungguh ada, dan harapanmu tidak akan hilang.” (Amsal 23:17-18)

AYAT ALKITAB HARIAN
Iklan
%d blogger menyukai ini: