BERPIKIR SECARA POSITIF (2)

Mari kita mulai dengan mengakui bahwa terkadang hidup itu sulit. Dan beberapa dari kita memilikinya lebih sulit daripada yang lain. Itulah mengapa Alkitab mengatakan ‘ada waktu untuk menangis dan ada waktu untuk tertawa.’ (Pkh 3:4) Tapi bagaimana jika Anda terus ‘menangis’ tentang hidup? Bagaimana Anda bisa mengurangi ketegangan dan keletihan yang dihasilkan oleh berbicara kepada diri sendiri secara negatif? Berikut adalah tiga cara:

(1) Potong dan tempel. Latih diri Anda untuk mengenali obrolan batin negatif begitu dimulai dan segera hapus. Jika perlu, bawa gergaji mesin ke sana. Jika itu membantu, buat sinyal ‘time out’ dengan tangan Anda sebagai pengingat fisik untuk diri sendiri. Tapi jangan berhenti di situ. Gantikan pikiran negatif itu dengan berbicara kepada diri sendiri yang Alkitabiah. ‘ Siapa memelihara mulut dan lidahnya, memelihara diri dari pada kesukaran.’ (Ams 21:23)
(2) Sesuaikan nada bicara Anda. Anda tahu bagaimana kata dokter, ‘Ini mungkin sedikit menyengat,’ saat dia menusukkan jarum ke lengan Anda? Pinjam tekniknya dan sadari bahwa sedikit rasa sakit hari ini akan membuat Anda siap untuk kemenangan besok. Ingat setiap masalah hanyalah peluang yang menyamar.
(3) Jadilah BFF Anda sendiri (Teman Yang Diberkati Selamanya). Dengan menggunakan suara BFF Anda, dengan sengaja bicarakan suara negatif yang mengoceh di dalam diri Anda. Bicaralah kepada diri sendiri seperti yang Anda lakukan kepada teman terbaik Anda. Alkitab berkata, ‘Tetapi Daud menguatkan kepercayaannya kepada TUHAN, Allahnya.’ (1 Sam 30:6)

Nyalakan kembali pikiran Anda. Memprogram ulang pikiran Anda. Ada kuasa dalam Firman Tuhan. Jadi, apa pun yang Dia katakan tentang Anda, mulailah mengatakan hal yang sama dan lihatlah hidup Anda berubah menjadi lebih baik.

Sumber : Buku Renungan Hari Ini
Edisi : Kamis, 01 September 2022

JADIKAN KRITIK BERMANFAAT UNTUK ANDA

Ada dua macam kritik:
(1) Kritik yang tidak adil. Akan selalu ada orang yang suka ‘menghujani parademu’; orang yang mencoba membangun dirinya sendiri dengan menjatuhkan orang lain. Mark Twain berkata, ‘Jauhkan diri dari orang-orang yang mencoba meremehkan ambisi Anda. Orang kecil selalu melakukan itu, tetapi orang yang benar-benar hebat membuat Anda merasa bahwa Anda juga bisa menjadi hebat.’
(2) Kritik yang membangun. Salomo berkata, ‘Teguran orang yang bijak adalah seperti cincin emas dan hiasan kencana untuk telinga yang mendengar.’ (Ams 25: 12) Ada hambatan besar yang harus Anda atasi untuk mencapai potensi tertinggi Anda. Apa itu? Keengganan alami kita untuk menemukan sesuatu yang tidak menarik tentang diri kita sendiri. Ketika Anda membangun pertahanan terhadap kekurangan Anda dan mencoba menyembunyikan kesalahan Anda, Anda menutup pintu ke sumber penting dari pengetahuan diri. Dan dengan melakukan itu, Anda menyangkal diri Anda sendiri akan sukacita tumbuh.

Setiap orang dari kita dapat meningkatkan apa yang kita lakukan atau cara kita melakukannya. Faktanya, jika Anda masih merayakan apa yang Anda lakukan tahun lalu—Anda tidak membuat kemajuan yang cukup tahun ini. Setelah memenangkan kejuaraan dunia ketiganya, alih-alih mengadakan perayaan besar, pengendara banteng Tuff Hedeman pindah ke Denver untuk memulai musim baru — seluruh proses lagi. Alasannya adalah: ‘Banteng di Denver tidak akan terkesan dengan apa yang saya lakukan minggu lalu.’

Apakah Anda seorang pemula atau veteran yang belum teruji, jika Anda ingin menjadi juara besok, Anda harus dapat diajar hari ini. Atau seperti yang dikatakan Salomo: ‘Siapa mengindahkan teguran adalah bijak.’ (Ams 15:5)

Sumber : Buku Renungan hari Ini
Edisi : Kamis, 11 Agustus 2022

AKAN TETAP INDAH

Siapa yang menyukai bunga mawar? Dimanapun bunga mawar itu tumbuh, akan tetap terlihat indah. Entah itu di semak belukar, di hutan, di pekarangan yang kotor, semua hal itu tidak akan mengurangi keindahannya. Saya tidak pernah mempermasalahkan di mana bunga itu tumbuh atau dari mana asalnya, sebab keindahannya telah menutupi segala kekurangannya.

Hendaknya kehidupan kita menjadi indah seperti bunga mawar. Kita tidak perlu memikirkan tentang pujian dan penilaian orang lain terhadap kita. Tugas kita adalah berbuat baik. Terkadang kita perlu menutup mata untuk berbuat baik. Kita tidak perlu memandang siapa yang hendak kita tolong. Kita pun tidak perlu meragukan tempat dan waktu.

Selalu ada ganjaran yang baik untuk sebuah kebaikan. Selalu ada upah yang layak untuk segala hal yang telah kita lakukan. Pujian dari manusia tidak lebih berharga daripada pujian dari Tuhan. Agar tetap dikenan Tuhan dengan segala berkat-Nya, tetaplah berbuat baik sekalipun tidak diinginkan oleh orang lain.

Siapa mengejar kebaikan, berusaha untuk dikenan orang, tetapi siapa mengejar kejahatan akan ditimpa kejahatan.

Amsal 11:27

MESKI HIDUPNYA SINGKAT

David Brainerd lahir pada 20 April 1718 di Haddam, Connecticut, Amerika Serikat. Ia bukanlah seorang yang “beruntung”. Sejak masih kecil ia telah ditinggalkan oleh kedua orang tuanya. Ketika berumur 9 tahun ayahnya meninggal dan 5 tahun kemudian ibunya pun meninggal. Kemudian ia tinggal dengan seorang pendeta yang baik dan diberi kesempatan untuk belajar.

Di masa mudanya, Brainerd telah menyerahkan hidupnya untuk melayani Tuhan. Ia adalah misionaris pelopor pekabaran Injil bagi suku Indian Amerika.

Ketika usianya baru menginjak 29 tahun, ia menderita sakit parah. Kesehatannya semakin menurun dengan cepat, tetapi semangat dan sukacitanya terus bergairah.

Menjelang saat-saat terakhir hidupnya, ia berkata, “Mengapa kereta-Nya tidak datang-datang juga? Saya sudah lama menantikan waktu untuk memuji dan memuliakan Tuhan bersama para malaikat di sorga.”

Usianya memang terhitung singkat, namun bagi Brainerd hal itu tidak menjadi masalah sebab dalam sepanjang hidupnya ia telah melakukan yang terbaik bagi Sang Raja.

Dari pengalaman David Brainerd, kita belajar bahwa yang penting bukan berapa lama kita hidup, melainkan bagaimana kita hidup. Apakah ada kualitasnya? Apakah ada manfaatnya bagi sesama? Apakah Allah dimuliakan melalui kita?

Mari kita, berapa pun usia kita, mari jalani hari-hari ke depan dengan semangat untuk hidup bagi kemuliaan-Nya

Sumber : Renungan & Ilustrasi Kristen

KEJUJURAN SANG PRIA

Seorang pria bimbang dengan tawaran pekerjaan untuk posisi yang baru. Sang pimpinan menghendakinya menuliskan jumlah yang berbeda pada laporan penerimaan barang.

Pria itu dengan berat hati menolak tawaran promosi tersebut karena ia tidak mau melakukan kebohongan.

Keesokan harinya, ketika ia mengutarakan jawaban dan alasannya, anehnya, promosi jabatan itu malah ia peroleh.

Rupanya, pimpinan perusahaan itu sedang menguji kejujuran dan ketulusan hatinya. Enam kandidat sebelumnya gagal melewatinya.

Orang benar adalah orang yang mengerti cara hidup benar, termasuk memilih hal yang benar sekalipun ada tawaran menggiurkan untuk melakukan hal yang jahat. Orang benar adalah orang yang tidak takut akan risiko yang harus dihadapi ketika ia memilih untuk tetap berada di “jalur” yang benar.

Tuhan pun tahu cara menghargai umat-Nya yang tetap teguh berdiri demi kebenaran sekalipun seluruh dunia melakukan hal yang sebaliknya. Pilihan yang tidak populer sekaligus dihindari oleh banyak orang, tetapi bernilai tinggi di mata Tuhan. Beranikah kita melakukannya?

“Kenangan kepada orang benar mendatangkan berkat, tetapi nama orang fasik menjadi busuk.” (Amsal 10:7)

Sumber : Renungan & Ilustrasi Kristen

PENYESALAN TERBESAR

Di Belgia pernah dilakukan survey terhadap warga berusia 60 tahun tentang penyesalan terbesar yang mereka rasakan.

Hasilnya? Ternyata 72% menyesal karena mengabaikan waktu untuk bekerja dengan baik pada masa muda.

67% menyesal karena merasa salah memilih pekerjaan.

63% karena tidak mendidik anak dengan benar.

58% karena kurang berolahraga dan menjaga kesehata.

Dan 11% karena tidak memiliki cukup banyak uang.

Ketika kita sadar telah mengambil langkah yang keliru, kita menyesal. Ketika kita sadar telah melakukan hal yang salah, kita menyesal. Ketika kita harus menerima konsekuensi atas suatu perbuatan dosa, kita menyesal.

Setiap orang pernah melakukan hal yang keliru dan membuatnya menyesal. Tetapi, tidak semua orang mampu belajar dari kesalahan dan penyesalannya. Banyak orang menyesali perbuatannya, tetapi mereka tidak segera memperbaiki pola hidupnya yang salah. Akibatnya, seperti kata pepatah, penyesalan selalu datang terlambat.

Tidak sedikit orang menunjukkan penyesalannya dengan cara yang salah. Sesungguhnya, penyesalan adalah sebuah kesempatan dan anugerah Allah! Masing-masing kita tentu pernah membuat kesalahan dan hal itu menimbulkan rasa bersalah di dalam hati. Allah menghargai penyesalan kita dan Dia sanggup memakai kesalahan itu untuk menyatakan rencana-Nya yang besar dalam hidup kita. Anugerah-Nya tetap tersedia untuk kita!

SUMBER : RENUNGAN & ILUSTRASI KRISTEN

%d blogger menyukai ini: