KRISIS MINYAK GORENG, MENDAG AKUI SALAH PREDIKSI LONJAKAN HARGA CPO

Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi mengaku salah dalam mencegah krisis minyak goreng di dalam negeri.

Kesalahan yang diakuinya itu karena tidak mampu memprediksi lonjakan harga minyak sawit mentah (CPO), padahal trennya memang terus menguat. Lonjakan harga CPO terjadi sejak awal bulan ini dan terutama dipicu oleh invasi militer Rusia ke Ukraina.

“Yang kita desain adalah, saya tidak tahu atau memproyeksi bahwa akan ada invasi dari Rusia terhadap Ukraina. Ini yang menyebabkan harga CPO loncat dari Rp16 ribu menjadi Rp21 ribu. Dan itu, harga bebasnya kemudian kalau diproses tambah lagi premiumnya Rp3 ribu menyebabkan perbedaannya hampir Rp9 ribu. Nah ini yang tidak bisa kita prediksi,” ujar Lutfi, Kamis, (17/3/2022).

Muhammad Lutfi menjelaskan lonjakan harga CPO itu mengundang orang berbuat serakah dan jahat dengan diorganisir mafia minyak goreng serta komoditas lain.

Saat rapat kerja dengan DPR kemarin, Lutfi mengatakan sudah menerbitkan Peraturan Menteri Perdagangan yang mencabut kebijakan harga eceran tertinggi (HET) minyak goreng.

Peraturan ini langsung berlaku sejak diundangkan.

Iklan

Perintah Presiden Ke Mendag:Harga Minyak Goreng Harus Tetap Terjangkau!

Presiden Jokowi memerintahkan Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi untuk menjaga kestabilan harga minyak goreng di pasar domestik.

Hal itu dipinta Jokowi lantaran harga minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) di pasar ekspor tengah melambung tinggi.

“Karena harga CPO di pasar ekpor sedang tinggi, saya perintahkan menteri perdagangan untuk menjamin stabilitas harga minyak goreng di dalam negeri,” kata Jokowi dalam keterangannya, Senin (3/1/2022).

Jokowi meminta Kementerian Perdagangan memprioritaskan minyak goreng untuk kebutuhan domestik.

Untuk menjamin harga tetap terjangkau oleh masyarakat, Jokowi memerintahkan Mendag melakukan operasi pasar guna memantau harga minyak goreng di dalam negeri terkendali.

“Sekali lagi prioritas utama adalah kebutuhan rakyat. Harga minyak goreng harus tetap terjangkau. Jika perlu Menteri Perdagangan bisa melakukan operasi pasar lagi agar harga tetap terkendali,” katanya.

Sebelumnya, Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi tengah melakukan beberapa langkah untuk menurunkan harga minyak goreng dalam negeri.

Ia mengakui, memang harga minyak kelapa sawit mentah atau crude palm oil (CPO) sudah terlampau tinggi.

“Kementerian Perdagangan sudah memitigasi dengan cara memastikan adanya 11 juta liter dalam kemasan sederhana minyak goreng, yang dijual di 14 ribu Rupiah. Yang kedua, kalau harganya masih tetap tinggi, kita mencoba mensubsidi melalui BPDP PKS, Kelapa Sawit,” ujar Lutfi dalam Pelepasan Ekspor Akhir Tahun 2021 Oleh Menteri Perdagangan, Selasa (21/12/2021).

Muhammad Lutfi merekomendasikan agar penggunaan dana Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDP KS) dialihkan untuk menyubsidi harga minyak goreng.

SUMBER : @kbr.id

Selengkapnya di KBR.id

%d blogger menyukai ini: