RUANG PUBLIK KBR

Data Globocan tahun 2020 menyebut kejadian baru kanker kepala dan leher di dunia lebih dari 900 ribu yang merupakan penjumlahan dari kanker jenis kanker bibir dan rongga mulut, lidah, orofaring, hipofaring, laring, nasofaring, dan kelenjar ludah.

Karena itu kanker kepala dan leher tercatat menjadi penyebab kematian pada urutan ketujuh di dunia dan kasusnya 5 persen dari seluruh kanker di dunia.

Seperti apa tanda dan gejala dari kanker kepala dan leher?

Bagaimana pengobatannya dan siapa yang berisiko?

HARI INI di Ruang Publik KBR kami membahas tema ini bersama:
-Dokter Diani Kartini, Spesialis Bedah Konsultan Onkologi dari Divisi Bedah Onkologi RSCM
-Hartini, Survivor Kanker Lidah Stadium 3 dari Cancer Information and Support Center (CISC) @cancerclubcisc

Bisa didengarkan di radio jaringan KBR di Nusantara.
Streaming: suaragratiafm.com/streaming
LIVE YT: Berita KBR

#Radio #SuaraGratia #RuangPublikKBR #RadioCirebon #Talkshow #DialogPublik #EcclesiaCirebon

RUANG PUBLIK KBR

Hingga saat ini Covid-19 belum berlalu. Vaksinasi masih perlu diintensifkan agar dapat menekan penularan dan meningkatkan kekebalan komunal. Untuk itu, pemberian dosis ketiga atau booster harus digencarkan agar ketahanan masyarakat meningkat dalam menghadapi risiko penularan Covid-19.

Di tengah pelaksanaan vaksinasi dosis ketiga atau booster pertama, Kementerian Kesehatan mengeluarkan program vaksinasi Covid-19 dosis keempat atau booster kedua yang ditujukan untuk Tenaga Kesehatan di Indonesia.

Booster kedua Nakes dilaksanakan serentak di fasilitas kesehatan masing-masing daerah.

Lalu, seperti apa cakupan vaksinasi booster pertama hingga saat ini? Mengapa secara bersamaan pemerintah juga menjalankan program vaksinasi booster kedua? Apa urgensinya?

HARI INI kami bahas di #RuangPublikKBR bersama dr. Mohammad Syahril, Sp.P, MPH – Juru Bicara Kementerian Kesehatan RI dan  Dr. dr. Hariadi Wibisono, MPH – Ketua Umum Perhimpunan Ahli Epidemiologi indonesia

Bisa didengarkan di Radio Suara Gratia 95.9FM

LIVE YT: Berita KBR

Talkshow ini dipersembahkan oleh
@palangmerah_Indonesia, @IFRC, @UsaidIndonesia

RUANG PUBLIK KBR

RUU KUHP sebagai rancangan undang-undang yang mengatur mengenai hukum pidana secara umum, tentunya sangat bersinggungan dengan kepentingan hukum publik, HAM, dan kebebasan sipil. Pengaturan tindak pidana lingkungan hidup yang merupakan kejahatan serius tentu tidak boleh lebih buruk dari Undang-Undang No. 32 tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup. Hal ini demi memberikan perlindungan baik kepada masyarakat maupun lingkungan hidup itu sendiri.

Draf RUU KUHP per 4 Juli 2022 telah memberikan pengakuan atas subjek hukum pidana korporasi, yang apabila diatur secara cermat dapat menciptakan penegakan hukum yang dapat memberikan perlindungan masyarakat dari kejahatan korporasi. Tetapi, rumusan subjek hukum korporasi dan tindak pidana lingkungan yang ada di RUU KUHP saat ini justru berpotensi mempersulit pembuktian terhadap tindak pidana lingkungan hidup. Lalu, seberapa penting peninjauan ulang terhadap draf RUU KUHP?

Seperti apa ketentuan tentang pemidanaan korporasi serta tindak pidana lingkungan dalam RUU KUHP?

HARI INI kami obrolin di #RuangPublikKBR bersama:
-Andreas Marbun @andreas_marbun – Peneliti Indonesia Judicial Research Society (IJRS)
@ijrs_official
-Marsya M. Handayani – Peneliti ICEL @Icel_indo

Bisa didengarkan di radio jaringan KBR di Nusantara.

LIVE YT: Berita KBR

RUANG PUBLIK KBR

Sebagai salah satu upaya pencegahan stunting sejak dini, edukasi bagi calon pengantin perlu didorong sejak pra-pernikahan. Stunting atau gagal tumbuh akibat gizi buruk merupakan persoalan yang mendapat perhatian serius dari pemerintah, terlebih angka kasus stunting di Indonesia masih cukup tinggi.

Berdasarkan Survei Status Gizi Balita Indonesia (2019), dari 5 juta bayi lahir per tahun, 1,2 juta di antaranya mengalami stunting. Artinya, satu dari empat anak usia di bawah lima tahun (balita) di Indonesia mengalami stunting.

Angka ini melebihi prevalensi stunting yang ditoleransi Badan Kesehatan Dunia (WHO), yakni di bawah 20 persen. Untuk itu pemerintah menargetkan dapat menurunkan angka prevalensi stunting menjadi 14 persen pada 2024.

Bagaimana edukasi yang dilakukan kepada calon pengantin untuk mencegah stunting?

HARI INI, kami obrolin ini di #RuangPublikKBR bersama:

-dr. Maria Endang Sumiwi, MPH – Direktur Jenderal Kesehatan Masyarakat, Kementerian Kesehatan RI
@Kemenkes_RI
-Nopian Andusti, SE., MT – Deputi Bidang Keluarga Sejahtera dan Pemberdayan Keluarga @BKKBNOfficial

Bisa dengarkan di radio jaringan KBR di Nusantara.

Di Cirrbon via RADIO SUARA GRATIA 95.9FM

Streaming: KBR.id

LIVE Youtube: Berita KBR

Obrolan ini dipersembahkan @DJIKP @Kemenkominfo

RUANG PUBLIK KBR

Berdasarkan data Survei Status Gizi Balita Indonesia (SSGBI) tahun 2021, prevalensi stunting saat ini masih berada pada angka 24,4 persen atau 5,33 juta balita.

Prevalensi stunting ini mengalami penurunan dari tahun-tahun sebelumnya.

Akan tetapi, Presiden RI Joko Widodo @Jokowi menargetkan angka stunting turun menjadi 14 persen di tahun 2024.

Lalu apa saja upaya yang dilakukan untuk melakukan percepatan penurunan prevalensi Stunting?

HARI INI kami obrolin ini  di #RuangPublikKBR bersama:
-Agus Suryo Suripto, S.Ag., M.H – Kepala Subdirektorat Bina Keluarga Sakinah, Kementerian Agama RI
@Kemenag_RI
-I Made Yudhistira Dwipayama, S.Psi., M.Psi – Plt. Direktur Bina Penggerakan Lini Lapangan, @BKKBNOfficial

Bisa dengarkan di radio jaringan KBR di Nusantara.

Di Cirebon via RADIO SUARA GRATIA 95.9FM

Streaming: KBR.id

LIVE Youtube: Berita KBR

Obrolan ini dipersembahkan oleh @djikp @Kemenkominfo

#KBR #Radio #Talkshow #Stunting 

RUANG PUBLIK KBR

Hingga saat ini Indonesia masih menghadapi permasalahan stunting atau masalah gizi kronis akibat kurangnya asupan gizi dalam jangka waktu panjang sehingga mengakibatkan terganggunya pertumbuhan pada anak.

WASH (Water, Sanitation and Hygiene) disebut menjadi salah satu faktor penyebab terjadinya stunting.

Kantor Dinas Kesehatan Kabupaten Tangerang (2021) misalnya,  menyatakan ada 4.780 anak balita (0-59 bulan) di Kabupaten Tangerang menderita stunting dan tidak dapat tumbuh kembang secara normal dikarenakan sistem sanitasi yang buruk dan rendahnya kesadaran masyarakat untuk hidup bersih, sehingga Tangerang menjadi wilayah yang berpotensi kehilangan generasi yang sehat.

Seperti apa Habitat for Humanity Indonesia @habitat_id berkolaborasi dengan @alleira_batik dan The Sultan Hotel & Residence Jakarta, berupaya menjadi  bagian dari upaya percepatan penurunan stunting di Indonesia dan di Tangerang?

HARI INI kami bahas  di #RuangPublikKBR bersama:
● Susanto Samsudin – Direktur Nasional Habitat for Humanity Indonesia
● Indira Puliraja – Marketing Communications Manager The Sultan Hotel & Residence Jakarta

Bisa didengarkan di radio jaringan KBR di Nusantara.

Di Cirebon via SUARA GRATIA 95.9FM

Streaming: KBR.id

LIVE YouTube: Berita KBR 

%d blogger menyukai ini: