AYAT ALKITAB HARIAN, 02 MARET 2022

JANGAN TERBELENGGU MASA LALU

Bangsa Israel tidak mengarahkan pandangannya ke depan di mana Tuhan sudah menyediakan suatu kehidupan yang berpengharapan di Kanaan, “…suatu negeri yang berlimpah-limpah susu dan madunya…” (Keluaran 3:8). Sebaliknya, pikiran mereka terus menoleh ke belakang Mesir. Masa lalu di Mesir terus menghantui hati dan pikiran mereka. Mental sebagai budak tetap melekat di benak mereka, padahal mereka sudah dipilih Tuhan sebagai anak-anak-Nya, umat pilihan-Nya dan juga kesayangan-Nya sendiri!

Hal ini bisa terlihat, di mana di sepanjang perjalanan menuju tanah perjanjian mereka tak pernah berhenti mengeluh, bersungut-sungut, kuatir, cemas, bahkan terus membanding-bandingkan hidup mereka saat berada di Mesir. Keluh mereka, “Ah, kalau kami mati tadinya di tanah Mesir oleh tangan TUHAN ketika kami duduk menghadapi kuali berisi daging dan makan roti sampai kenyang! Sebab kamu membawa kami keluar ke padang gurun ini untuk membunuh seluruh jemaah ini dengan kelaparan.” (Keluaran 16:3). 

Sesungguhnya, kegagalan mereka mencapai tanah perjanjian bukanlah masalah fisik, tetapi masalah mental, masalah alam berpikir mereka yang belum diperbaharui. Karena itu jangan pernah menganggap remeh apa yang kita pikirkan, karena hal itu akan berdampak pada tindakan. Alam pikiran kita acapkali membawa kita pada kenyataan seperti yang kita pikirkan, baik itu berkat atau kutuk. Salomo berkata, “Sebab seperti orang yang membuat perhitungan dalam dirinya sendiri demikianlah ia.” (Amsal 23:7a). Tuhan tidak pernah merancangkan kegagalan dalam kehidupan kita, sebaliknya “…rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.” (Yeremia 29:11).

Stop mengeluh, bersungut-sungut, dan juga kuatir! Buang itu semua dari pikiran kita! Hal-hal itu hanya akan merugikan diri kita sendiri dan juga menjadi penghambat kemajuan kita, bahkan keadaan kita justru akan semakin buruk. Mari kita tinggalkan kegagalan, luka, dan apa saja di masa lalu yang membuat kita gagal!

Iklan

AYAT ALKITAB HARIAN, 23 FEBRUARI 2022


Seorang yang sedang mempersiapkan dirinya sebagai petugas sosial dalam masyarakat ditempatkan untuk mengenal lapangan masyarakat di daerah pegunungan.

Ia melihat betapa orang di daerah itu rugi dalam pekerjaan mengerjakan sawah yang umumnya pematangnya lebih tinggi dibandingkan dari pada bagian hamparan yang ditanami padi.

Seorang bapak ditemaninya berhitung tentang biaya yang dibutuhkan untuk mengerjakan sebidang sawah yang biasa dikerjakannya. Untuk mengerjakan sawah itu sampai panen –di luar waktu menunggu padi dari serangan burung pipit yang memakan buah padi selama sebulan penuh– dibutuhkan biaya sekitar dua juta rupiah.

Lalu setelah selesai menghitung ongkos yang dibutuhkan, maka orang itu bertanya, “Dan berapa liter beras yang dihasilkan dari pekerjaan itu?”

Jawaban pak tani membuat persangkaan awalnya semakin kuat. Pak tani menjawab, “Sekitar enam puluh liter beras”. Jika diuangkan, maka nilainya sekitar lima ratus ribu rupiah.

Dengan penuh keyakinan, orang itu berkata kepada pak tani, “Bukankah itu membuktikan bahwa mengerjakan sawah di daerah ini adalah kerugian? Lebih besar pasak dari pada tiang.”

Pak tani menanggapinya. “Hitungan itu tidak salah tetapi kalau kami tidak mengerjakan sawah kami, maka kami kehilangan segalanya, sebab uang yang dua juta rupiah itu adalah hitungan di atas kertas dan wujudnya dalam hidup kami adalah kerja bersama. Dan kami juga tidak akan punya beras yang seharga lima ratus ribu rupiah.”

Perhitungan yang berbeda, bagi yang melihat kerja sebagai kegiatan ekonomi ia rugi satu juta lima ratus ribu rupiah, tetapi yang melihat kerja sebagai berkat Tuhan ia diberkati sebanyak dua juta lima ratus ribu rupiah.

Sumber : Renungan & Ilustrasi Kristen

TUHAN SANGGUP MENGUBAHKAN KEADAAN

Kisah kehidupan Yusuf adalah contoh berharga bagi kita. Mengalami hal-hal buruk (dimasukkan sumur, dijual sebagai budak, dipenjara) bukanlah akhir perjalanan hidup Yusuf, namun merupakan bagian dari proses yang Tuhan ijinkan terjadi. Ketika Yusuf tetap setia menjalani proses dan tidak berontak kepada Tuhan, hal-hal luar biasa Tuhan nyatakan.

Keadaan Yusuf, yang secara manusia tanpa harapan, Tuhan ubah menjadi penuh harapan, bahkan hidupnya pun menjadi berkat bagi kaum keluarga dan bangsanya. “diutus-Nyalah seorang mendahului mereka: Yusuf, yang dijual menjadi budak. Mereka mengimpit kakinya dengan belenggu, lehernya masuk ke dalam besi, sampai saat firman-Nya sudah genap, dan janji TUHAN membenarkannya. Raja menyuruh melepaskannya, penguasa bangsa-bangsa membebaskannya. Dijadikannya dia tuan atas istananya, dan kuasa atas segala harta kepunyaannya,” (Mazmur 105:17-21).

Kunci agar tetap kuat di tengah penderitaan yang berat adalah jangan tawar hati, “Jika engkau tawar hati pada masa kesesakan, kecillah kekuatanmu.” (Amsal 24:10), tetap menjaga ucapan dengan selalu memperkatakan firman Tuhan, “demikianlah firman-Ku yang keluar dari mulut-Ku: ia tidak akan kembali kepada-Ku dengan sia-sia, tetapi ia akan melaksanakan apa yang Kukehendaki, dan akan berhasil dalam apa yang Kusuruhkan kepadanya.” (Yesaya 55:11), dan arahkan pandangan hanya kepada Tuhan Yesus sumber pertolongan, bukan kepada yang lain.

Sekalipun keadaan sepertinya belum juga berubah, seperti berada di lembah-lembah kekelaman atau padang gurun, itu bukanlah akhir perjalanan hidup kita sebab kita masih punya pengharapan di dalam Tuhan, dan pengharapan di dalam Dia tidak pernah mengecewakan, Tuhan pasti sanggup mengubah keadaan dari yang tak mungkin menjadi mungkin, asalkan kita tetap hidup seturut kehendak-Nya.

“Bagi Dialah, yang dapat melakukan jauh lebih banyak dari pada yang kita doakan atau pikirkan, seperti yang ternyata dari kuasa yang bekerja di dalam kita,” (Efesus 3:20)

RENUNGAN HARI INI, EDISI 2022

Marilah ikut terlibat dalam pelayanan bersama dengan Radio Suara Gratia 95.9FM Cirebon

Jappri dan UCB Indonesia telah menerbitkan sebuah buku spesial yang menyediakan makanan rohani kita.

Buku Renungan Hari Ini Edisi 2022 adalahh sebuah buku renungan yang membantu kita bertumbuh di dalam Yesus, menjadi serupa dengan-Nya dan menjadi berkat bagi dunia.

Keluarga Gratia juga dapat mengirimkan donasi, untuk mendukung penyebaran berkat melalui Renungan Hari Ini di edisi berikutnya.

Untuk pemesanan dan info lebih lanjut, hubungi CALL CENTER RADIO SUARA GRATIA :
Office : 0231.230816
WA : 0817.222.959

Tubuh Sebagai Doa

Ilustrasi. Berlutut. (Foto: Istimewa)

“Demikianlah aku mau memuji Engkau seumur hidupku dan menaikkan tanganku demi namaMu.” Mazmur 63:5

Alkitab penuh dengan apa yang bisa disebut doa tubuh: Musa berdoa dengan kedua tangannya diangkat tinggi ketika orang-orang Israel bertempur melawan orang-orang Amalek; Elisa berdoa mengembalikan kehidupan anak laki-laki Shunammi dengan berbaring di atas tubuhnya; Daud menari di hadapan Tuhan di saat Tabut Perjanjian dibawa masuk ke Kota Kudus; Yesus menumpangkan tanganNya pada banyak orang; Yohanes berbaring menelungkup di hadapan Kristus yang dimuliakan ketika berada di Patmos.

Gaya tubuh dalam berdoa yang paling umum di Alkitab adalah menelungkupkan tubuh seluruhnya atau bersujud dengan tangan terjulur ke depan. Gaya tubuh yang kedua paling umum adalah dengan kedua tangan dan telapak tangan terangkat ke atas. Gaya tubuh yang menjadi kebiasaan kita – kedua telapak tangan bertemu dan mata tertutup – tidak ditemukan dalam Alkitab. Hal ini tidak berarti bahwa gaya tubuh yang pertama, kedua dan ketiga tadi tidak tepat. Tetapi hal inni seharusnya membebaskan kita untuk menggunakan bahasa tubuh apa pun yang tepat untuk masuk ke dalam suatu pengalaman doa. (Richard Foster)

Renungan

Bayangkanlah tubuh Anda sebagai suatu alat untuk memuji. Hendaknya Anda tidak merasa canggung untuk mengangkat kedua tangan Anda guna memuji Tuhan. Meskipun doa bisa dilakukan kapan saja, dalam posisi apa saja, cobalah untuk berlutut pada suatu saat. Salah satu gaya tubuh dalam berdoa yang disukai di dalam Perjanjian Lama, yang masih dilakukan oleh banyak orang Kristen adalah berlutut dengan muka menghadap ke bawah dalam kerendahan hati yang menyeluruh. Menyungkurkan tubuh sepenuhnya, tertelungkup, juga merupakan posisi berdoa yang sering digunakan. Jangan canggung-canggung dalam mencoba praktik-praktik doa ini yang mungkin baru bagi Anda. Kerendahan tubuh adalah suatu ungkapan jasmani dari kerendahan hati.

(Sumber: Buku What Would Jesus Do)

Mayoritas

(perfectingofthesaints.com)

“Siapa tidak bersama Aku, ia melawan Aku dan siapa tidak mengumpulkan bersama Aku, ia menceraiberaikan.” Matius 12:30

Satu orang bersama Tuhan selalu berada dalam mayoritas. (John Knox)

Renungan

Kadang-kadang bila kita merasa sendirian sebagai orang Kristen, yang dikelilingi oleh orang-orang yang tidak memiliki iman yang sama dengan kita, terdapat suatu tekanan untuk menyesuaikan diri dengan mayoritas. Kita semua sudah pernah memahami hal itu. Terkadang, mayoritas ingin melakukan sesuatu yang jelas bukan sesuatu yang akan dilakukan Yesus. Apakah kita akan ikut atau apakah kita teringat kepada siapa yang kita layani?

Jika kita melakukan apa yang hendak dilakukan Yesus, kita berada di dalam mayoritas Tuhan. Mungkin saja hasilnya akan lebih sedikit dari antara semua rekan lama yang berada di pihak kita. Namun ditemani oleh Tuhan sebagai sahabat mengimbangi semua yang lainnya.

Mungkin kita tidak selalu mudah untuk melakukan apa yang hendak dilakukan Yesus, tetapi kita layak melakukannya.

Kasihilah Sesamamu

Foto: Istimewa

Kasihilah Sesamamu

“Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka. Itulah isi seluruh hukum Taurat dan kita para nabi.” Matius 7:12

Jadilah orang yang sedemikian dan jalanilah kehidupan sedemikian sehingga jika setiap orang hidup seperti Anda dan setiap kehidupan seperti kehidupan Anda maka bumi ini akan menjadi Taman Firdaus Allah. (Phillips Brooks)

Renungan

Bayangkanlah Anda mampu meringkas semua ini ajaran Perjanjian Lama dengan kata-kata yang sederhana “Lakukanlah kepada orang lain apa yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu”. Inilah ringkasan dari “Apa yang hendak dilakukan Yesus?” Jika kita melakukan hal ini setiap harinya tanpa peduli dengan apa yang dilakukan oleh orang lain sebagai tanggapannya, maka kita akan mengetahui bahwa iman kita bisa menular.

Mencukupkan Diri dalam Segala Hal

Ilustrasi. Hidup berkecukupan. (Foto: Istimewa)

Kamis, 27 Juli 2017

“Kukatakan ini bukanlah karena kekurangan, sebab aku telah belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan.” Filipi 4:11

Tidak merasa cocok dengan berbagai hal, tindakan dan peristiwa di mana Tuhan – dalam kemurahan hatiNya – telah menganggap cocok untuk meletakkan semuanya itu di sekitar kita, atau dengan kata lain, kita tidak menerima semua itu dengan roh yang rendah hati, penuh iman dan syukur – adalah berarti berpaling dari Tuhan.

Sebaliknya, memandang semua itu sebagai kehadiran Tuhan yang berkembang dan dari kehendak Tuhan dan menerima kehendak itu artinya berpaling ke arah yang berlawanan dan menjadi satu dengan Dia. (Thomas C. Upham)

Renungan

Bagaimana jika tahap hidup Anda sekarang ini tidak pernah berubah – bisakah Anda bahagia? Anda bisa jika Anda memahami bahwa kebahagiaan tidak tergantung pada keadaan. Terimalah keadaan Anda sekarang dan carilah Tuhan untuk mendorong Anda maju, dengan tekad bahwa kepuasaan Anda tidak bergantung pada hal-hal lain yang diberikan olehNya, tetapi pada Dia.

4 Pengusaha Ini Bangkit Ketika Karirnya Sudah di Ujung Tanduk

Ilustrasi. Depresi. (Foto: Istimewa)

(Suara Gratia) Cirebon – Pernahkah Anda merasa bisnis yang sudah dirintis dari nol sudah berada di ujung tanduk atau mengalami gejala-gejala kebangkrutan? Anda tidak sendiri. Bahkan pengusaha sukses di luar sana pasti mengalami kegagalan. Lalu apakah mereka menyerah? Bagaimana mereka menanggapi kegagalan yang sudah di ujung mata?

Empat pengusaha berikut mungkin bisa menjadi inspirasi bagi Anda yang bisnisnya sedang berada di ujung tanduk.

  1. Barbara Corcoran

Barbara Corcoran adalah pendiri The Corcoran Group, sebuah agen perumahan mewah terbesar di New York, Amerika Serikat. Mengawali karir sebagai seorang pelayan, Corcoran kemudian membangun bisnis dengan pacarnya kala itu, Simon, senilai 1000 dolar. Selama tujuh tahun, mereka sukses membangun perusahaan yang mencakup 14 agensi perumahan mewah di New York.

Namun, tak disangka Simon memberi ‘kejutan’ kepada Barbara dengan mengatakan ia akan menikahi sekretaris Corcoran. Saat itu, Corcoran seperti disambar petir dan rasanya ingin mati saja. Dia juga berpikir untuk menyerah.

Tapi pikiran itu ditepisnya. Corcoran mengambil separuh bisnis agensi tersebut dan mengambil tujuh pegawai penjualan bersamanya. Tahun 2001, ia menjual Corcoran Group dengan nilai jual 66 juta dolar. Setelah menjual bisnisnya, ia terus berjuang menemukan jalannya sendiri sebagai pengusaha.

  1. Cam Mirza

Pendiri Mirza Holdings dan The $500 Milion Man, Cam Mirza telah delapan kali gagal  dalam membangun usahanya dan sekarang telah memimpin perusahaan yang nilainya miliaran dolar dengan 600 pegawai.

“Saya sudah gagal berkali-kali dalam bisnis dimana memulai dari awal adalah sesuatu yang familiar. Saya memberi waktu kepada diri saya sendiri tiga hari untuk berduka atas kehilangan bisnis saya atau kegagalan yang besar. Setelah itu, saya membuat rencana untuk membangun modal dan infrastruktur untuk membuat sesuatu yang baru,” ungkap Cam Mirza, seperti yang dilansir dari jawaban.com.

Cam kemudian membuat pengingat beberapa kali dalam sehari untuk tetap fokus dalam mengeksekusi rencana yang telah dia buat.

  1. Jim Mathers

CEO dari North American Energy Advisory, Inc Jim Mathers ditendang oleh perusahaannya yang sudah ia bantu bertumbuh 300 persen. Saat itu ia mulai berpikir untuk memiliki bisnis sendiri dan menjadi tuan atas takdirnya. Kejadian ini sudah terjadi sekitar 20 tahun yang lalu.

“Saya tidak pernah kehilangan kepercayaan atas kemampuan saya. Saya fokus kepada kemampuan saya untuk membuat segalanya benar. Saya tetap positif dan menggunakan kejadian yang menyedihkan ini untuk memaksa diri saya berpikir lebih besar dari sebelumnya,” kata dia.

  1. John Hanna

“Saya gagal tiga kali,” ungkap John Hanna, penulis buku “Way of the Wealth” dan CEO Fairchild Group.

“Dari pengalaman, pola pikir Anda adalah segalanya. Ambil waktu untuk mengatur ulang sikap Anda. Gagal itu sangat berat, bahkan pengalaman yang meremukkan, tetapi berputar-putar dengan sikap seorang pecundang membuatnya tambah berat. Jangan ada pesta mengasihani diri! Kemudian, temukan kembali alasan mengapa kamu dulu memulai usahamu. Apa yang menjadi tujuanmu? Gunakan itu menjadi motivasi utama untuk bangkit kembali. Semua kejadian dramatis akan berlalu, tetapi kita harus memilih ke arah mana sesudahnya; ke atas atau ke bawah.” (jawaban.com)

 

%d blogger menyukai ini: